Menulis Ulang:Walmiki, Rahuvana Tattwa, Shinta, Rama, PDRI, Syafrudin Prawiranegara, Sudirman, Sukarno dan Political Branding (72)

gus an ordinary blogger
Saya sangat tergoda dengan tema besar dalam Novel Rahuvana Tattwa. Sebuah epik fiksi yang sarat akan analisa kepustakaan. Terlebih, jika kita penggemar wayang. Maka segera kita akan dikagetkan oleh pertanyaan gugatan sejak pembuka buku ini.


"Benarkah Rama adalah seorang Ksatria. Kalau jawabannya iya. Maka kenapa Rama membunuh Subali yang menjadi musuhnya dari belakang? (selayaknya perilaku orang licik saja). Kenapa Rama menghukum buang Shinta ke hutan. Bahkan tetap dingin saja. Bak hati bagai batu, ketika Shinta memilih 'bunuh diri' dengan cara membiarkan diri tertelan bumi hanya untuk membuktikan dirinya tak pernah selingkuh?"

Begitu sebaliknya. "Benarkah Rahwana adalah demon atau raksasa yang haus darah, keji dan licik? Padahal pada saat yang sama Walmiki sang penulis Epos Ramayana mengatakan kerajaan Rahwana dibentengi tembok tinggi. Memiliki pemerintahan yang teratur dan memiliki tata kota yang rapi jali? Bahkan seluruh rakyatnya mencintainya dan rela berkorban sampai titik darah penghabisan?"

Tapi bukan daftar pertanyaan seperti yang disampaikan Agus Sunyoto tadi, (Sang penulis buku tersebut) yang ingin saya bahas. Melainkan tentang cara orang menulis sejarah. Yang selalu disusun secara narsis. Itu pula yang hendak disampaikan Agus Sunyoto dalam epik fiksi-nya. Sekedar tahu Rama, berdasar catatan buku ini. Adalah suku pendatang.Tepatnya pencari daerah jajahan baru yang berasal dari bangsa kulit putih. Yakni Suku Arya.

Selayaknya Magelhaens atau Columbus yang mengatakan gaya hidup orang asli kepulauan masih barbar. Sehingga absah bagi mereka untuk menghancurkan kehidupan suku asli. Begitu juga yang dilakukan Rama terhadap bangsa yang dikepala-negarai oleh Rahwana. (catatan: persepsi ini ternyata sama persis dengan masyarakat Srilangka yang menganggap Suku Arya - termasuk Rama- adalah penjajah )

Kita jadi mafhum kenapa Rama tergambarkan bak ksatria yang baik budi sementara Rahwana yang sangat dicintai rakyatnya, digambarkan bak monster. Tokoh yang bahkan tak pernah menyentuh Shinta walau hanya sekedar di tangannya. Meskipun Shinta menjadi tawanan perangnya. (Bahkan untuk kasus ini, Rahwana menempatkan Sintha dalam tamansari, bukan krangkeng penjara. Bedakan dengan sikap Rama yang malah membuang Shinta ke hutan dan membiarkan Sintha bunuh diri. Hanya demi alasan agar Shinta membuktikan kesucian cintanya). Jawabannya adalah karena Kisah Ramayana ditulis oleh Valmiki (Walmiki), sang suku pendatang dan penjajah tentunya.

Ah. Saya jadi teringat nasib Syafrudin Prawiranegara. Tokoh yang menjadi Presiden dijaman darurat yang kemudian dikenal dengan PDRI. Orang yang merangkap empat posisi sekaligus: Ketua PDRI, Menteri Pertahanan,
Menteri Luar Negeri dan Menteri Penerangan. Ditemani wakilnya Mr. T. M. Hassan, Wakil Ketua PDRI, Menteri Dalam Negeri merangkap Menteri Agama (sekedar tahu, bila presiden dan wakil presiden berhalangan. maka posisi pemerintahan dikendalikan oleh menlu, mendagri dan menhan) Tak ketahuan rimba nasib kepahlawanananya.

Bayangkan, orang yang harus menyelamatkan Pemerintahan Darurat tersebut harus kucing-kucingan dengan NICA melintasi pegunungan dan belantara hutan Sumatra yang tak bersahabat waktu itu.

Orang yang pernah memegang hampir semua posisi kunci dalam pemerintahan. Mulai dari Menteri Keuangan, Gubernur BI, sampai Perdana Menteri ini juga bukan anak orang biasa. Ayahnya bangsawan keturunan Raja Pagaruyung Minang. Sekaligus Bangsawan Banten. Karenanya ada nama Prawiranegara sebagai nama keluarganya. (
Berbeda dengan tokoh Sukarno yang masih perlu men-sakralkan diri dengan rumor bahwa dirinya masih keturunan Raja Majapahit).

Tapi dihari tuanya hanya menjadi
takmir masjid kecil di Tanjung Priok. Itupun dengan status larangan berkhotbah dari rezim Suharto saat itu. Sebuah ironi. Apalagi untuk ukuran besarnya penggorbanan, jasa dan tauladann etos kepahlawanan yang dia berikan.

Berbeda dengan sikap Sukarno. Yang pada menjelang agresi militer Belanda ke II pada pertengahan Desember 1948. Berpidato dengan disiarkan corong RRI agar bangsa indonesia melawan Belanda. Bahkan dia bersumpah berkali-kali untuk bersama-sama rakyat untuk memimpin gerilya.

Namun. Disaat Belanda benar-benar datang. Fakta berkata lain. Sukarno memilih menyerah. Sudirman tetap pada pendiriannya.Yakni melakukan gerilya. Meski sebagian ginjal dan paru2nya membusuk. Dan Syafrudin membawa lari kabinet darurat beserta dokumen kenegaraan ke hutan belantara Sumatra.

Bersyukur. Sejarawan mulai membuka kembali episode tersebut untuk diteliti kembali. Dan hasilnya memang begitu adanya: Sukarno memilih menyerah. Sudirman bergerilya. Prawiranegara menyelamatkan pemerintahan. Tapi Nasib ketiganya berbeda. Jangankan (dua nama terakhir) memikirkan masa depan anak-anaknya. Agar jadi politisi atau petinggi negara dimasa mendatang. Memikirkan dirinya sendiri mereka berdua saja tidak sempat.

Duh sejarah negeriku. Selalu penuh ironi. Dan penuh politisasi. Beginilah sebuah negeri yang menjadikan Politik Sebagai Panglima dan kekuasaan sebagai Ilah (Tuhan). Opinipun disusun secara narsis olehnya. Melempar kesalahan yang orang dekatnya seolah musuh bebuyutannya yang melakukan. Agar sejarah dirinya dicantumkan bak semerbak parfum terwangi. Seperti Walmiki yang mempahlawankan Rama yang terbukti kejam, dan me-brandingnya seolah orang suci .....


Selengkapnya...

Labels: