About me

Blog

Showing posts with label art. Show all posts
Showing posts with label art. Show all posts

09 July 2012

# N.O.W - P.L.A.Y.I.N.G: Sahabat Malam | SurauKami | Pesantren dan Rumah Singgah kebudayaan

0 comments

# N.O.W - P.L.A.Y.I.N.G: PRE OPENING / 13 Juli / Khalaqah Puisi /Leak Sosiawan | OPENING: Pameran Seni Rupa SAHABAT MALAM Perupa Cacing Terbang / 14 Juli / Ngaji Rock Padhangmbulan / Unang Pesantren Bluessy / Openg | Alfi Street Music | Kurator Tan Markaban / Saroni Asikin / 14 Juli | KONTEN : Ngaji Pemikiran / Martin Suryajaya / Awaludin Marwan| Ngabuburit ArtWork / Perupa Cacing Terbang / Wesiati Setyaningsih / Wiwien Wintarto / Wien Gottic / Wawan Hermawan / 28/29 Juli/ Wayang Tenda Nandang Wuyung / Suhenx Nandang Wuyung, dkk / Ngaji Suluk Kiai Budi /8/9 Agustus | Pemutaran Film / Agung Banyu Bening / Komunitas Ratu Shima | CLOSING: Musik Takbir Keliling/18/19/20 Agustus | Pemantik Acara, Tamu, Undangan, Peserta, Partisipan Diharap Bersiap-Siap Menyalakan Api Kearifan dan Ketulusan

Read more

03 July 2012

B.O.A.R.D.I.N.G | Bersama Sahabat Malam | Tempat: All venues SurauKami | 14 juli 2012

0 comments
B.O.A.R.D.I.N.G | Bersama Sahabat Malam | Tempat: All venues SurauKami | 14 juli 2012 | Pukul : 18.30 s/d Selesai | Ngaji Rock Padhangmbulan serta Pembukaan Lelang dan Pameran Seni Rupa : Perupa Cacing Terbang |Pemantik: Music : Unang Pesantren Bluessy, SurauAkustrik, Efi Jaya Nata Street Musicians; Kiram Performance Art; Diskusi Seni Rupa: Tan Markaban | Ke Surau Kita Kembali ...
Read more

S.E.G.E.R.A | Ke Surau Kita Kembali | Bersama Sahabat Malam | 14 juli - 17 Agustus

0 comments

S.E.G.E.R.A | Ke Surau Kita Kembali | Bersama Sahabat Malam | 14 juli - 17 Agustus | PEMBUKA: Ngaji Rock Padhangmbulan | ACARA : Lelang & Pameran Seni Rupa: Perupa Cacing Terbang | NGABUBURIT ARTWORK : #Workshop Lukis #Workshop Menulis #Pop Culture Debat Student #Stand Up 4 Children #Puisi Anak / Macapat #Wisata SeniRupa | NGAJI KABUDAYAN: #Ngaji Kesusastraan #Suluk Djalaludin Rumy #Diskusi Kamar |... PENUTUP: Musik Takbir Keliling Anak | PEMANTIK: Tan Markaban (Seni Rupa, Kurator ), Kyai Budi (Rumah Cinta), Leak Sosiawan (Sastra, ISI Surakarta ), Saroni Asikin (Pemerhati, Redaktur Suara Merdeka ), Paguyuban Nandang Wuyung (Wayang Tenda ), Dadang (Cagar Budaya Ratu Sima), Robbyzidnie Ielman, Catur Rebowo, Surya Wahyudi, Udin Nur Efendi (Perupa Cacing Terbang), Wiwin Wintarto, Wesiati Styaningsih ( Lini Kreatif ), Win Ghotic, Astro, Putri, Suheng, Lurah Eko Gondrong (Surau Akustrik), Unang (Pesantren Bluessy), Jaya nata, Alfi (Musik Jalanan), Tarom (Performance), Openg , Arief (Hysteria) | Mari kita siapkan ketulusan dan Api Kearifan | SurauKami Jln. Tusam Raya no.26 Banyumanik Semarang
Read more

08 May 2012

Profile Company of SurauKami

0 comments
SurauKami | Pesantren & Rumah Singgah Kebudayaan.
Format dalam bentuk aplikasi shockwave. bentuk Desain berupa Buku. Untuk memperbesar konten/isi profile silakan klik icon pembesar. Untuk menjalankan atau melanjutkan ke halaman berikutnya klik tanda kursor di bagian bawah










Read more

11 March 2012

Benarkah Eko Tunas Seorang Seniman ?

0 comments
knownledge dan sekedar menjadi find away to life, sebagaimana paradigma akademis dari Barat, meminjam istilah Amir Yasraf Piliang untuk menjawab pertanyaan itu maka saya pastikan, kita akan kesulitan untuk memahami dan mencari tahu posisi Eko Tunas dalam kesenian.

Mengapa? Karena, Eko Tunas lebih memandang seni sebagai essence of art . Sebagai manivesto kehidupan. Dan memfungsikannya untuk tujuan find away to make a living dan bukan sekedar alat untuk find away to live. Atau dengan kalimat yang lebih tegas, Eko Tunas mengambil esensi seni sebagai manivestasi kehidupan. Karena kehidupan adalah seni itu sendiri.

*****

Itulah sebabnya bukan hanya puisi, cuman cerpen, sekedar esai atau mung lukisan yang dihasilkan. Semua diciptakan. Sekaligus. Puisi, cerpen, esai, monolog, berteater, naskah drama, tata-panggung, lukisan, pamflet, film dan syair musik, semua digarapnya.Bukan lantaran ingin mengejar sebutan sebagai seniman serba bisa. Namun, lebih disebabkan karena karena alasan manivesto kehidupannya tak mungkin hanya diwakili oleh satu ‘instrumen’ saja.

Dia perlu menggunakan semua 'instrumen' seni tersebut untuk meresonansikan 'suara dalam kepala', atau untuk menarasikan 'diktum keyakinan'. Sebuah cara bermanivesto yang mirip dengan cara Raddin Abbas -Priyayi asal Residensi Kediri- yang belakangan dikenal sebagai Kyai Sadrach dan Ngabdollah atau Kyai Tunggul Wulung dalam sejarah keKristenan di Jawa pada pertengahan dan awal abad ke-18. Dan cara berkesenian yang mendekati cara Raden Said yang kemudian dikenali sebagai Sunan Kalijaga. Tokoh yang perjalanan spiritual dan thariqah tasawufnya sering dituturkan Eko Tunas di Suraukami.

*****

Kini, saya melihat bayangan anak priyayi kelahiran Tegal 18 Juli 1956 itu bergerak. Bekesenian. Berjalan dari kampung ke kampung tanpa lelah. Dengan cara bergerak yang masih seperti jaman mudanya. Kali ini pergerakan manusia paro baya yang bermadzhab ma'rifah, berwushul mahabbah dan berharakah ghiffariyah itu semakin kontstan.

*****

Seperti pergerakan seorang tokoh yang diceritakan Gunawan 'Puthu' Budi Susanto kepada saya. Tentang seorang tukang sapu di pinggir jalan yang sehari-harinya hanya menyapu guguran daun yang dijatuhkan oleh setiap pohon yang dirawatnya sejak muda. Sejauh apa pun daun kering yang dijatuhkan pohon-pohon peliharaannya itu ditiup angin. Sejauh itu pula dia menyapu.

Selalu menyapu setiap hari. Selama tujuh hari dalam seminggu. Tigapuluhan hari dalam sebulan. Dan sebanyak tigaratusan hari lebih dalam setahun. Tanpa jeda. Tanpa merasa lelah. Tanpa peduli panas hujan. Loyal pada pekerjaannya. Tanpa berharap upah dari pemerintah. Tulus. Bermakna mendalam. Karena menyapu, dan mengejar kemana sampah yang dijatuhkan pohon peliharaannya adalah bagian dari cara pengabdiannya pada Sang Maha Pemberi Kehidupan.

Jadi, masihkah perlu untuk mencari jawaban apakah Eko Tunas seorang Seniman atau bukan? Seorang Budayawan atau bukan?

Saya khawatir, kalau kita memaksakan diri untuk mencari jawaban, yang kita temukan justru mengarah pada kesimpulan lain. Bahwa Eko Tunas adalah seorang pegiat tasawuf, alias sufi. Atau bahkan jika disimulasikan, jangan-jangan jawaban yang paling kerap muncul adalah ini: Eko Tunas adalah seorang Kyai yang pesantrennya seluas kota yang pernah disinggahinya. Wallahu a'lam.

*****

Akhirnya, selamat bertasawuf dengan cara meng-iqro'-i kumpulan 'suara dalam kepala' dan 'teriakan hati-nurani' sekaligus 'diktum pemikiran' Eko Tunas yang terkumpul dalam Antologi Puisi Ponsel Di Atas Sprai kali ini. Semoga bahan tasawuf dari Eko Tunas berikutnya bisa segera dihadirkan. Nuwun.

*Ditulis Sebagai Pengantar Ulang Tahun Eko Tunas Ke-55, dan Sebagai official Prolog Suraukami untuk Antologi Puisi Ponsel Di Atas Sprai Eko Tunas
Read more

27 November 2008

Inilah Karya Pauhrizi yang Menyindir Itu

27 comments
Nah. Inilah hasil karya lukis, photography, dan desain grafis Pauhrizi. (baca postngan ini) Pelukis muda asal Bandung yang saya tuliskan reportasenya pada tanggal 4 Oktober 2008. Silakan menikmati permainandua dimensi jebolan Fakultas Teknik Universitas Indoenesia,ITB dan sekaligus Boras University Sweden tersebut.

Permainan media dua dimensi dimana dia melukis sedetil karya fotografi. Memotret dengan gaya ala lukisan. Dan menyulam seolah potret diri. tertmasuk ide besarnya yang menghilangkan identitas obyek dua dimensinya tersebut seperti: wajah, sebagian mata, atau identitas lain yang membuat sebuah obyek 'tak lagi bisa dikenali identitasnya'. Mirip metode mutilasi .















































































Read more

04 November 2008

Saat Seni Lukis Pauhrizi Menyindir Oligargi dan Dinasti Baru Elit Politik Nasional

58 comments
Tahukah kita, bahwa seni lukis menempati posisi puncak dalam piramida seni? Setidaknya begitu bunyi sebuah teori. Mengapa ? Karena seni lukis tak pernah mengambil wilayah gerak yang dimiliki seni lainnya. Dan tetap konsisten bekerja pada wilayah yang dimilikinya sendiri: wilayah dua dimensi.

Berbeda dengan seni tari, seni drama , seni musik, film atau wilayah tiga dimensi yang dimiliki seni patung. Masing-masing mereka, masih punya sifat bergantung pada wilayah yang dimiliki kesenian lainnya. Seni tari misalnya, masih membutuhkan musik dan ruang untuk eksitensinya. Apalagi seni drama atau seni peran dalam filem, lebih banyak lagi wilayah seni lain yang diirisnya .

Nah, di wilayah inilah. Pauhrizi. Pelukis muda asal Bandung jebolan Fakultas Teknik UI yang kemudian berturut-turut melanjutkan belajar di ITB dan Boras University Sweden tersebut mencoba permainkan media dua dimensi: Melukis dengan detail seolah sebuah karya fotografi. Memotret dengan gaya kanvasing ala lukisan. Dan menyulam seperti karya foto atau karya lukis.

Kali ini, mengusung tema penghilangkan identitas obyek foto, lukis ataupun sulam. Dengan cara apa? Dengan cara menghilangkan wajah, sebagian mata, atau penanda lain yang membuat sebuah obyek 'sulit dikenali identitas obyek yang dipindahkan ke media kanvas'.

Itulah yang saya tangkap dari pameran tunggal pelukis bernama lengkap Erik Muhammad Pauhrizi di "galeri seni Yaitu" Selama pameran tunggal untuk melengkapi tour-nya selama ini. Tour yang telah menjamah galeri seni di Singapore, Tokyo, Sweden, United Kingdom, New Zeland, Australia dan Korea Selatan beberapa tahun lalu.

Namun. Yang membuat saya kagum adalah relevansi tema lukisan yang sangat mengena dengan situasi indonesia kekinian. Jebakan tema yang dikurasi oleh
Heru Hidayat tersebut memaksa saya untuk makin tajam menyorot perilaku elitis sekelompok masyarakat yang saat ini menempati wilayah tertinggi dalam piramida sosial kita.

Lihat saja bagaimana kelompok ini mulai membentuk oligarki baru di wilayah politik. Menghadang peserta baru (baca: partai baru, atau Capres-Cawapres baru) dengan membuat plafon tinggi dalam UU Pilpres. Sehingga akan sangat sulit dicapai partai baru atau kandidat baru. Karena harus mengumpulkan 20 % suara. Atau setara dengan 34.882.000 suara. Sebuah jumlah yang berat untuk dicapai partai menengah sekalipun. Apalagi partai baru

Belum cukup itu saja. Petinggi partaipun berlomba membangun politik dinasti. Lihat catatan KPU yang telah mengeluarkan Daftar Calon Tetap. Maka kita akan menemukan daftar "Darah Biru Petinggi Partai" bertebaran nangkring di posisi Caleg. Ada Mumtaz 'Amin' Rais,Puan 'Megawati' Maharani,Dave 'Agung' Laksono. SBY tentu tak mau ketinggalan. Segera melepas tiga 'anggota dinasti-nya'. Masing-masing Edhie Baskoro Yudhoyono, Nurcahyo 'Hadi Utomo'Anggoro, dan Hartanto 'Adik Anie'Edhie Wibowo.Nama terakhir ini (menurut catatan Tempo) terlibat urusan kasus Blue Energy dan Padi Super Toy.

*****
Sebuah paradok memang. Belum terlalu kering jasad Suharto yang membawa 'rekaman caci maki' sebagai Bapak Nepotisme. Nampaknya para penyambung lidah reformasi ini sudah meniru perilaku orang yang dicaci-makinya. Membangun Nepotisme baru.

Benar kata seorang teman alumni Leiden, yang juga salah satu putra Pengasuh Pesantren Gontor saat itu:"Suharto butuh waktu 30 tahun untuk membangun keberanian dalam membentuk dinasti politik. Tapi Presiden sekarang hanya butuh waktu 4 tahun. Bahkan kurang dari itu, sudah terang-terangan membangun Dinasti Politik". Wew...)

Tiba-tiba saya jadi teringat bagaimana marahnya Mar'ie Muhammad yang saat itu Menteri Keuangan, saat melihat istrinya menggunakan mobil dinas untuk urusan Dharma Wanita. Atau Kwik Kian Gie yang membentak anaknya yang menemuinya di Kantor Kementrian tempatnya berkantor untuk urusan bisnis. Atau mendiang Kajagung legendaris ' Baharudin Lopa' yang samapai menampar muka sang anak karena menemuinya saat dia bekerja.

*****
Ah. Pauhrizi. Saya jadi tahu sekarang. Rupanya pesan itu yang ingin Anda sampaikan saat ngopi bareng seusai diskusi apresiasi di Rumah Seni Yaitu. Penggambaran yang pas. Termasuk tema penghilangan identitas diri. Pas untuk menyindir perilaku elitis petinggi kita yang selalu nyaris kehilangan ciri khas mukanya. Kadang Reformis. Kadang Nepotis. Kadang melankolis untuk menunjukkan empati. Kadang bengis saat menghabisi lawan politik. Seperti tak bermuka.















































Read more

Labels