About me

Blog

Showing posts with label lifestyle. Show all posts
Showing posts with label lifestyle. Show all posts

12 March 2012

Jawa, Ken Arok, Majapahit, Dan Poitik Penghalalan Segala Cara

148 comments
Jawa , merupakan sumber penggalian filsafat adalah keniscayaan. Namun kadang Jawa sekaligus sumber paradoks itu sendiri. Itu hal yang bisa saya kutip selama mengikuti kegiatan 'pencarian kembali budaya Jawa' selama tiga hari dua malam di arena Kampung Seni Lerep Semarang, beberapa tahun lalu.

*****
Beruntung saya diberi banyak kebebasan mengelaborasi acaraoleh kawan yang menjadi host acara tersebut. Lebih beruntung lagi karena dalam acara yang serba jawa tersebut - tidak hanya sekedar menapresiasi sastra dan seni Jawa klasik semacam tari, wayang, atau karawitan. Tetapi juga berisi film indie, bedah novel berbahasa jawa dan karya seni kontemporer lainnya- saya diperbolehkan mengajukan perlunya 'mengamandemen' kemesra'an antara wangsit dan dunia kekuasaan di tanah jawa.

*****

Sekedar tahu, Soekarno perlu memproklamirkan diri sebagai keturunan Jaka Tingkir untuk memperkuat wibawanya di kalangan bangsawan jawa waktu itu. Soeharto merasa penting untuk menyetarakan diri sebagai penerima wahyu kekuasaan (pulung:jawa). Ritusnya dimulai saat dia masih jauh sebelum menjadi Komandan Pasukan Tjadangan (yang berubah menjadi Kostrad) di daerah sekitar Gunung Pati. Tepatnya, di Sungai Kaligarang, Gunungpati. Belakangan, Suharto membangun Tugu Suharto untuk mengingatkan proses mistifikasi kekuasaannya di tepian sungai tersebut.

Setelah itu berturut-turut Gus Dur, Mega, dan SBY mengikuti jejak pendahulunya. Meski dibantah berkali-kali, namun fakta bahwa SBY, presiden yang peraih gelar doktor bidang Pertanian di IPB tesebut, memerlukan upacara pengambilan sumber mata air dari 7 tempat yang dikeramatkan di tanah Jawa untuk memulai pencalonannya menjadi Presiden. Serta memilih hari pasaran (kalender jawa) disetiap mengambil keputusan pentingnya.

*****

Pertanyaannya adalah, mengapa di jaman posmo seperti ini para pemimpin nasional memerlukan mistifikasi? Tidak mudah menjawabnya. Karena memerlukan ketekunan akademis untuk merunut penggunaan mistifikasi kekuasaan tersebut.

Namun, kutipan seorang jurnalis senior yang sekaligus pengajar sastra Jawa di Unnes berikut barangkali bisa membantu kita untuk menemukan alasannya. Yaitu: "untuk mengembalikan lagi wibawa kekuasaan yang mulai runtuh dihadapan sebagian besar rakyatnya".

*****

Saya jadi teringat pembicaraan terakhir saya dengan mendiang Pramoedya Ananta Tour beberapa bulan selepas dibebaskan dari Nusakambangan. Dengan ditemani sang istri, Muthmainnah dan seorang pegiat Kepal PRD asal UGM, di ruang tamunya yang kecil dibilangan komplek kejaksaan jakarta.

" Sejarah politik Indonesia tak akan terlepas dari sejarah Majapahit dan Tanah Jawa. Yaitu sejarah aneksasi dan baku bunuhuntuk perluasan wewenang kekuasaan. Pra Majapahit pun, Jaman Singasari, menjelaskan semua teori itu. Kekuasaan membolehkan perselingkuhan bahkan baku bunuh saudara sendiri. Ken Dedes, istri bupati Tumapel (kediri saat ini) Tunggul Ametung diselingkuhi Ken Arok. Sebelum tragedi pembunuhan dilakukan. Majapahit juga begitu. Sebab, kekuasaan merupakan puncak pencarian jati diri bagi orang Jawa".

"Itulah kenapa menumbalkan rakyat banyak adalah (seperti) kenicayaan dalam sejarah politik Indonesia", celetuk saya. ""Itulah jawa dan itulah indonesia" jawab Pram sambil mengepulkan rokok dan sesekali membetulkan alat bantu pendengaran yang kurang pas.

*****

Mengingat perkataan Pram diatas, membuat saya ingin mengingat (kembali) peristiwa berdarah yang menyertai proses alih kekuasaan terakhir, mulai kasus santet Banyuwangi, kasus Ambon, Kasus Maluku Utara yang diikuti kasus Poso. Terus kasus konflik horisontal Sampit, Bom Bali, Bom JW Mariot, Bali jilid II dst. Ya rentetan peristiwa yang setelah saya tarik surut kebelakang, ternyata lebih sering dipicui oleh peralihan pimpinan partai, pemilukada, dan peralihan kekuasaan nasional.

Namun, belum lagi saya berhasil mengingat dan mencatat kembali peristiwa kerusuhan yang memakan korban nyawa tak sedikit tersebut. Terdengar beberapa stasiun telivisi nasional mengeluarkan breaking news-nya: Kerusuhan antar suku di Tarakan meledak, Kerusuhan antar preman di PN Jaksel menyusul kemudian, dan sehari berikutnya kerusuhan laten antara masyarakat dengan penganut Ahmadiyah meledak lagi.

*****

Saya tak yakin, kerusuhan akan segera berhenti di republik ini dalam waktu dekat. Karena saya masih melihat arus besar yang sama di layar sosial kita. Arus tersebut adalah adagium "bahwa kekuasaan akan selalu memerlukan korban gelimang darah rakyat tak bersalah."

Seorang karib lain yang menjelaskan dengan teori perilaku politik dengan pendekatan yang relatif lebih sederhana. Bahwa kerusuhan demi kerusuhan yang belakangan terjadi lebih disebabkan karena sebagian petinggi politik kita masih "menjadikan politik sebagai panglima" dalam meraih kekuasaan. "Jadi, selama ideologi yang bertengger di otak pelaku politik adalah kekuasaan sebagai panglima, maka selama itu pula kita tak bisa berharap kerusuhan akan segera berakhir di republik kita"

*****


Read more

11 December 2011

Menggarami Laut

96 comments
Dia seorang diri di atas perahu kecil di tengah laut. Mulutnya terus menggumamkan istighfar dan tangannya menggenggam butiran garam dapur. Setiap satu ucapan, satu butir garam dia lempar ke laut. Hampir tiga hari tiga malam selalu begitu. Tenggorokannya mengering dan garam dalam gantangan mulai menipis. Dia abai pada sengatan terik, atau guyuran hujan yang menggigilkan tubuhnya. Satu, ya cuma satu, yang dia harapkan: Tuhan jadi iba, lalu mengampuni segala kesalahan yang telah dia buat.

Tiga hari sebelumnya, dia bertanya pada seorang kawan mengaji di masa kecil. Apakah Tuhan akan memaafkan dirinya? Temannya hanya diam sambil memberi isyarat agar mengikuti langkahnya. Berdua lalu mereka menuju tepian muara sungai, dan sang teman berkata, ''Bawalah segantang garam ini, dan naiklah ke perahu kecil itu. Sesampai engkau di tengah lautan, menghadaplah ke kiblat. Lalu, ambil sebutir demi sebutir garam dan lemparkan ke lautan. Ikutilah setiap lemparanmu dengan bacaan Istighfar."

"Begitu seterusnya. Jangan kembali ke surau untuk menemuiku, kecuali garam dalam gantang itu habis tak bersisa. Dan tenggorokanmu kering karena ucapan istighfarmu. Semoga Allah mengampunimu, memaafkanmu.''

Dia tak membantah meskipun tahu ini bukan cara beristighfar yang lazim. Tapi dia berpikir, mungkin ini satu-satunya tawassul terbaik untuk mengiba permaafan dari-Nya.

Saat matahari tepat di atas kepalanya, gantangan garam itu telah kosong. Tenggorokannya benar-benar kering. Namun, rasa sesak di dada tak seberat sebelumnya. Segera dia menepikan sampan ke muara sungai, dan bersigegas ke surau menemui sang teman.

''Kang, setelah apa yang kulakukan, apatah kiranya Tuhan mengampuni kesalahanku?''

Sang teman cuma menatap dirinya tajam. Cara menatap yang membuat pikirannya mengembara. Benarkah Dia yang Mahapemaaf itu tak lagi mengampuninya?

''Mungkin saja.''Begitu jawaban yang keluar dari mulutnya sendiri.

Dia berharap begitu. Sebab dia tahu, telah lama Tuhan dia tipu: alim di setiap tampilan dalam layar televisi; bijak di atas podium seminar; religius di forum kampanye; berbusa-busa menderaskan ayat suci di ruang publik.

*****

Ya. Sangat lama dia tak menjalankan lima waktunya. Jadwalnya dipenuhi kencan bisnis dan patgulipat politik. sangat lama pula, kebiasaan gelengan kepala karena transeden dalam zikir di tempat yang hening dia ubah menjadi gelengan ekstase di tengah gemerlap lampu tempat hiburan malam.

Zakatnya tak lagi disalurkan di rumah yatim-piatu tapi dia transfer ke rekening para penjual massa di beberapa rumah mobilisasi suara. Kadang disalurkan pada rumah tinggal para molek simpanan di apartemen-apartemen tersembunyi. Sa'i-nya tak melewati rute perjalanan Siti Hajar saat mencari air minum untuk Ismail kecil seperti saat berhaji. Dia lebih banyak bersa'i di bentangan padang rumput hijau sambil ditemani para caddy yang gemulai manja. Ya. Di tempat-tempat seperti itulah dia melakukan semua politicotainment. Di tempat seperti itu pula rupiah dan dolar tanpa nomor seri mengalir deras di bawah meja.

*****

''KAWAN, lihatlah sekelilingmu. Lihatlah dengan mata hati. Bukan dengan mata statistika. Bukan dengan hitungan rating pesona yang mengakibatkan perolehan suara partaimu melejit tajam,''

''Tengoklah gang-gang kumuh. Datangi rumah-rumah tiap pengikutmu. Kunjungi emperan-emperan toko yang masih menjadi tempat tinggal abadi mayoritas rakyatmu. Sesekali berhentilah di lampu merah dan tengoklah pengamen anak-anak dan pengemis yang semakin banyak.''

Dia masih diam, membiarkan sang teman terus berbicara.''Mungkin Tuhan telah memaafkanmu, dengan sebaik-baik permaafan. Namun, tahukah engkau, hanya orang bodoh yang berusaha keras menggarami lautan? Hanya orang tak berakal yang mencoba menebar garam di pusat garam itu dibuat?

Itulah dirimu. Dirimu lima tahun lalu. Kamu mengira telah melakukan hal besar. Sebab, surat keputusan dan kebijakan yang lahir dari tanganmu seolah telah membuka pelurusan hukum, menaikkan angka kepercayaan investasi, mencuatkan pendapatan per kapita, meninggikan angka kemakmuran, menolong orang miskin dengan bantuan uang kaget alias BLT ala reality show. meninabobokan keresahan rakyatmu dengan politik salon''

Sang teman terus berbicara." Kamu bersusah payah melakukan sesuatu yang kamu anggap besar. Tapi sebenarnya kesia-sian. Selalu merasa telah berbuat banyak. Padahal hanya menggarami lautan. Itulah dirimu. Dirimu di lima tahun kedua kekuasaanmu".

Tengoklah tokoh idolamu di masa kecil. Umar bin Khatab yang hampir tiap malam dihabiskan untuk meronda tiap gang di wilayah negara, sendirian. Dia perlu tahu, apakah ada warganya yang masih merasakan ketidakadilan dan kemelaratan. Bahkan dia sendiri yang akan memanggul gandum atau kurma untuk diserahkan kepada warganya yang luput dari kesejahteraan.

Khalifah yang bila sudah selesai menjalankan tugas kenegaraannya, segera mengganti lampu penerangan, alat transportasi dan menanggalkan semua fasilitas negara, dengan peralatan hidup pribadi yang sederhana. Karena, menurutnya setelah melaksanakan tugas kenegaraan, dirinya hanya warga biasa seperti kamu semua.''

Dia masih terus bergeming mendengarkan sesorah sang teman mengajinya di surau kecilnya dahulu.''Kawan, mungkin Tuhan memaafkanmu meski setiap hari engkau menipu-Nya berkali-kali. Namun, puluhan ataupun hampir ratusan juta orang yang kamu tipu, mereka tak akan pernah memaafkanmu. Sekarang atau nanti. "

"Kalau sekarang mereka diam, mungkin mereka hanya menunggu waktu. Kalau sampai waktunya, mungkin kau akan terjebak dalam lakon film-film gangster ala Godfather. Kerabatmu akan memaki dan wibawamu akan tandas. Ya, saat itulah mereka akan menghukummu.''

Dia masih diam, tetapi sekarang dia tahu apa yang telah dia lakukan di atas perahu kecil di tengah laut itu semata kesia-siaan. Laut tak butuh digarami. Dia juga sangat tahu, Tuhan memang Mahapemaaf, tapi puluhan bahkan ratusan atau jutaan orang yang telah dia tipu melalui politik kejaiman sekian lama tersebut tak akan gampang untuk mengucapkan, ''Kumaafkan kamu.''

****

Ditulis Ulang disebuah Surau Kecil Pinggiran Semarang



Read more

Labels

Gallery Lukisan SurauKami (4) Review (7) Santren (2) Surat Protes (1) art (7) blogging (7) business (2) culture (8) education (22) esai (22) history (2) international (6) internet (3) journey (35) lifestyle (2) music (3) pesantren (13) poem (4) social (19) socialmedia (3) story (7) tanbighul ghafilin (20)