Orang Baghdad, Irak mengenalnya sebagai sya'irul bilad. Lahir di kota kecil Ahvaz yang terletak di Iran. Dari ayah bersuku Arab bernama Hani al-Hakam. Anggota tentara biasa di jaman Kekhalifaan Marwan ke II dengan ibu tukang cuci kain tenun asal Persia, bernama Jalban.Kesehariannya sederhana. Sangat sederhana, bahkan. Bajunya sering tinggal dua setel saja. Satu dicuci, satu dipakai. Konon, karena sering ia gadaikan untuk kebutuhan makan keluarganya. Urusan makan? tak usah ditanya soal standar kandungan gizinya. tentu sangat pas-pasan. Namun kesederhanaan itu tak membuatnya bermuka masam. Sebaliknya, makin ramah saja pada setiap orang yang dijumpainya jika dia sedang menahan lapar.
*****
Kisah tentang tokoh tersebutlah yang saya sampaikan di pojok masjid yang terletak di area Kantor BPK, beberapa tahun silam. Kepadanya. Kawan dekat sejak masih sama-sama kuliah di sebuah sekolah tinggi berbeasiswa di bilangan Jakarta Selatan. Kawan yang saat itu sedang mengalami banyak dilema. Banyak kerumitan.
Pilihan yang sulit baginya. Terlebih setelah keberaniannya mendokumentasikan bukti penyuapan menggunakan hidden camera menjadi penyebab dipenjarakannya seorang petinggi negara. Kesalahan terbesarnya mungkin cuma satu. Dia tinggal di negeri bernama Indonesia. Dimana keberanian dan kejujuran dalam penegakan hukum justru akan menjadikannya dinistakan rejim berkuasa.
Lembaga yang dianggapnya bisa menjadi pilihan untuk menuangkan idealismenya tak lagi mau melindungi dirinya. Kejaksaan Agung justru sibuk mencari-cari kesalahannya. Politisi tentu saja menjadikannya snowboxing statement.
Diam, lalu menemani istrinya yang berdagang baju di sebuah kios kecil di kawasan Ciputat adalah jawaban taktis yang saya berikan kepadanya. Tentu saja setelah nanti selesai menemaninya membuat surat pengunduran diri sebagai auditor bersama-sama.
*****
Lalu saya melanjutkan kisah klasik itu kepadanya. Tentu setelah dia merasa aman dari jurnalis yang sejak sebelum Jum'atan sudah mencari-carinya. karena sedang membutuhkan pernyataan resmi darinya.
Ya. Lalu mengapa Sang Pujangga bersikap aneh? Menjadi Cengengesan. Murah senyum. Ramah menyapa. Justru saat berada di titik terendah kehidupan? Banyak warga Damaskus keheranan dengan sikapnya. Maka bertanyalah salah satu warga kepadanya: "Mengapa engkau malah menjadi sering tersenyum disaat kehidupanmu susah?"
Sang Syairul Bilaad yang dikenal dengan nama Abu Nawas-pun menjawab," Karena saya tahu. Setiap kesusahan dan keterpurukan menimpaku. Berati tidak lama lagi. Setelah itu. Kebahagiaan segera menyambutku.
Seperti ketika malam sudah mencapai puncak kegelapannya. Setelahnya pasti matahari segera muncul dengan sinar keemasannya. Selalu saja begitu. Karenanya saya merasa senang. Sebab esok atau lusa kesuksesan dan kebahagiaan akan menjemputku dengan ramah".
Lalu, sang Pujangga itu memperjelas argumentasinya. Dengan balik bertanya kepada sang penanya: "Bukankah setiap orang justru sumringah bila dia tahu bahwa sebentar lagi kebahagiaan akan menjelang. Seperti seorang laki2 yang selalu tersenyum bila besok hari dia bertemu dengan orang yang dirindukannya?".
Kawanku hanya diam. Tapi yang penting, Faa idza farogh tafanshob. Wa ilaa robbika farghab" Tapi saya tetap meneruskan kalimat yang belum selesai: "Mari. Segera selesaikan satu perkara. Termasuk keterpurukan saat ini. Dan bersegera mencari Ridla Tuhan. Sambil menunggu kepastian, bahwa sebentar lagi matahari akan muncul menemui kita.
*****
Sayangnya. Hanya singkat waktu yang saya miliki bersamanya. Apalagi beberapa wartawan nasional. Termasuk TV. Segera menghampirinya, begitu mengetahui orang yang dianggap sebagai nara sumber paling diincar tersebut sedang terlihat duduk di pojok masjid yang terdapat di komplek Kantor BPK. Apalagi kalau bukan urusan meminta statemen eklusif darinya. Tentang kasus KPU yang melibatkan tokoh-tokoh yang selama ini dianggap sebagai pendekar anti korupsi.
Segera saya menyuruhnya cuci muka. Agar kekusutnya tak terekam kamera TV.Atau terabadikan di memory card para photographer.
Saya tahu. Dia masih bersedih. Tapi saya kira dia tahu. Bahwa apa yang dikatakan sang Pujangga Kenegaraan Bani Umayyah tersebut benar adanya.
******
Ya. Apa yang saya katakan kepadanya. Atau yang disampaikan Abu Nawas yang memiliki nama lengkap Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami kepada warga kota Baghdad. Adalah cara lain untuk menyampaikan pesan: bahwa jangan pernah kita berhenti berharap. Karena kadang dinamika kehidupan itu dimulai dari adanya harapan.
Seorang ekonom penganut filsafat Gandhi-isme yang asal Jerman, E.F. Soemacher, mengatakan dengan kalimat yang lain. "Selama orang memiliki harapan. Keberhasilan selalu bisa diraih. Bukankah sebatang tanaman selalu bergerak mencari arah sinar matahari saat dia berada di lorong (yang pengap dan) sempit ?" Jadi, apa yang membuat tanaman terus-menerus bergerak? Jawabannya: " Karena tanaman selalu berharap mendapat sinar matahari untuk berfotosintesa demi kelangsungan hidupnya". Karenanya jangan berhenti berharap.






Twitter Follow my tweets!
Delicious What I've been reading.
Blogger What I'm writing.
Behance My artworks.