About me

Blog

Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts

28 April 2012

Abu Nawas, Teori EF Soemacher dan Sebuah Harapan

37 comments
Orang Baghdad, Irak mengenalnya sebagai sya'irul bilad. Lahir di kota kecil Ahvaz yang terletak di Iran. Dari ayah bersuku Arab bernama Hani al-Hakam. Anggota tentara biasa di jaman Kekhalifaan Marwan ke II dengan ibu tukang cuci kain tenun asal Persia, bernama Jalban.

Kesehariannya sederhana. Sangat sederhana, bahkan. Bajunya sering tinggal dua setel saja. Satu dicuci, satu dipakai. Konon, karena sering ia gadaikan untuk kebutuhan makan keluarganya. Urusan makan? tak usah ditanya soal standar kandungan gizinya. tentu sangat pas-pasan. Namun kesederhanaan itu tak membuatnya bermuka masam. Sebaliknya, makin ramah saja pada setiap orang yang dijumpainya jika dia sedang menahan lapar.

*****
Kisah tentang tokoh tersebutlah yang saya sampaikan di pojok masjid yang terletak di area Kantor BPK, beberapa tahun silam. Kepadanya. Kawan dekat sejak masih sama-sama kuliah di sebuah sekolah tinggi berbeasiswa di bilangan Jakarta Selatan. Kawan yang saat itu sedang mengalami banyak dilema. Banyak kerumitan.

Pilihan yang sulit baginya. Terlebih setelah keberaniannya mendokumentasikan bukti penyuapan menggunakan hidden camera menjadi penyebab dipenjarakannya seorang petinggi negara. Kesalahan terbesarnya mungkin cuma satu. Dia tinggal di negeri bernama Indonesia. Dimana keberanian dan kejujuran dalam penegakan hukum justru akan menjadikannya dinistakan rejim berkuasa.

Lembaga yang dianggapnya bisa menjadi pilihan untuk menuangkan idealismenya tak lagi mau melindungi dirinya. Kejaksaan Agung justru sibuk mencari-cari kesalahannya. Politisi tentu saja menjadikannya snowboxing statement.

Diam, lalu menemani istrinya yang berdagang baju di sebuah kios kecil di kawasan Ciputat adalah jawaban taktis yang saya berikan kepadanya. Tentu saja setelah nanti selesai menemaninya membuat surat pengunduran diri sebagai auditor bersama-sama.

*****
Lalu saya melanjutkan kisah klasik itu kepadanya. Tentu setelah dia merasa aman dari jurnalis yang sejak sebelum Jum'atan sudah mencari-carinya. karena sedang membutuhkan pernyataan resmi darinya.

Ya. Lalu mengapa Sang Pujangga bersikap aneh? Menjadi Cengengesan. Murah senyum. Ramah menyapa. Justru saat berada di titik terendah kehidupan? Banyak warga Damaskus keheranan dengan sikapnya. Maka bertanyalah salah satu warga kepadanya: "Mengapa engkau malah menjadi sering tersenyum disaat kehidupanmu susah?"

Sang Syairul Bilaad yang dikenal dengan nama Abu Nawas-pun menjawab," Karena saya tahu. Setiap kesusahan dan keterpurukan menimpaku. Berati tidak lama lagi. Setelah itu. Kebahagiaan segera menyambutku.

Seperti ketika malam sudah mencapai puncak kegelapannya. Setelahnya pasti matahari segera muncul dengan sinar keemasannya. Selalu saja begitu. Karenanya saya merasa senang. Sebab esok atau lusa kesuksesan dan kebahagiaan akan menjemputku dengan ramah".


Lalu,
sang Pujangga itu memperjelas argumentasinya. Dengan balik bertanya kepada sang penanya: "Bukankah setiap orang justru sumringah bila dia tahu bahwa sebentar lagi kebahagiaan akan menjelang. Seperti seorang laki2 yang selalu tersenyum bila besok hari dia bertemu dengan orang yang dirindukannya?".

Kawanku hanya diam. Tapi yang penting, Faa idza farogh tafanshob. Wa ilaa robbika farghab" Tapi saya tetap meneruskan kalimat yang belum selesai: "Mari. Segera selesaikan satu perkara. Termasuk keterpurukan saat ini. Dan bersegera mencari Ridla Tuhan. Sambil menunggu kepastian, bahwa sebentar lagi matahari akan muncul menemui kita.

*****
Sayangnya. Hanya singkat waktu yang saya miliki bersamanya. Apalagi beberapa wartawan nasional. Termasuk TV. Segera menghampirinya, begitu mengetahui orang yang dianggap sebagai nara sumber paling diincar tersebut sedang terlihat duduk di pojok masjid yang terdapat di komplek Kantor BPK. Apalagi kalau bukan urusan meminta statemen eklusif darinya. Tentang kasus KPU yang melibatkan tokoh-tokoh yang selama ini dianggap sebagai pendekar anti korupsi.

Segera saya menyuruhnya cuci muka. Agar kekusutnya tak terekam kamera TV.Atau terabadikan di memory card para photographer.

Saya tahu. Dia masih bersedih. Tapi saya kira dia tahu. Bahwa apa yang dikatakan sang Pujangga Kenegaraan Bani Umayyah tersebut benar adanya.

******

Ya. Apa yang saya katakan kepadanya. Atau yang disampaikan Abu Nawas yang memiliki nama lengkap Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami kepada warga kota Baghdad. Adalah cara lain untuk menyampaikan pesan: bahwa jangan pernah kita berhenti berharap. Karena kadang dinamika kehidupan itu dimulai dari adanya harapan.

Seorang ekonom penganut filsafat Gandhi-isme yang asal Jerman, E.F. Soemacher, mengatakan dengan kalimat yang lain. "Selama orang memiliki harapan. Keberhasilan selalu bisa diraih. Bukankah sebatang tanaman selalu bergerak mencari arah sinar matahari saat dia berada di lorong (yang pengap dan) sempit ?" Jadi, apa yang membuat tanaman terus-menerus bergerak? Jawabannya: " Karena tanaman selalu berharap mendapat sinar matahari untuk berfotosintesa demi kelangsungan hidupnya". Karenanya jangan berhenti berharap.





Read more

24 April 2012

Black Hawk, Frank Fosdahl, Yasraf Amir Piliang, Wayang, Sunan Kalijogo, Filsafat, Sains dan Paradoks Pemimpin Negeri Kita

62 comments
Art. Sering dipadankan dengan seni. Terlepas dari transliterasi tersebut, benarkah seni menjadi begitu penting dalam kehidupan seseorang?

Dalam paradigma Barat, seni berarti pertarungan antara iman Kristiani /Yahudi dan paradigma filsafat Yunani, begitu pendapat Frank Fosdhal, warga asing pertama peraih Magister dari ISI Yogyakarta dalam sebuah seminar internasional tentang peneguhan seni dalam kerangka ilmu pengetahuan, beberapa tahun silam.

Sedangkan seni di Indonesia, khususnya Jawa - masih menurutnya- adalah hasil perkawinan unsur filsafat Jawa kuno, Hindu dan Islam. Itu sebabnya orang Indonesia, khususnya Jawa, lebih memandang seni sebagai sebuah manivesto kehidupan. Lebih menekankan seni sebagai essence of art atau substansi seni bagi kehidupan. Jika Barat membawa pikiran seni sebagai knowledge atau ilmu pengetahuan. Indonesia, khususunya Jawa memilih mentransformasikan seni sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri.

Karenanya, seni menjadi media pengajaran keluhuran hidup dan kesantunan dan pengendalian emosionalitas. Makin tinggi penguasaan emosional seseorang makin tinggi tingkat keilmuan dan wisdomnya.
Perhatikan saja, tarian tokoh Arjuna yang mengalir tenang seperti gerak air. Sementara Cakil lebih emosional dan bahkan selalu menghunus keris. Tapi lihat kesudahannya. Cakil terbunuh oleh Arjuna sebagaimana Kala Merica yang emosional terbunuh oleh Rama.

*****
Tak heran bila Amir Yasraf Piliang, orang Indonesia pertama yg mengkaji soal teori Postmodern mengungkap bahwa dalam beberapa kasus, proses penemuan sains malah menggunakan proses kreatif seni. Penemuan teknologi parasut yang meniru binatang reptil terbang, pesawat terbang multi arah yang ternyata terilhami oleh cara kerja binatang tertentu. Konstruksi jembatan sosrobahu yang terilhami kerja mekanis bahu manusia. Tak membuat berlebihan pemahaman bahwa riset yang dilakukan pekerja sains mirip dengan cara pencarian inspirasi dalam proses kerja kreatif .

****


Yasraf seperti menjadi peneguh pandangan bahwa Seni merupakan find away to make a living
Namun terlepas dari teorema soal seni, kebudayaan dan transformasi sosial itu semua. Rasanya menarik memperhatikan kerja seni yang dilakukan seorang anak bupati di tanah Jawa era keruntuhan Majapahit. Kepiawaiannya dalam pengadaptasian media wayang sebagai media penyampai pesan moral dan filsafat hidup. Dan penambahan aroma ritmik sekaligus sunyi dalam musik karawitan dalam pengiring goro-goro dan pertempuran. Serta penambahan nafas suluk dalam setiap tembang yang dinyanyikannya. Melengkapi kerja kreatifnya dalam menyusun narasi cerita dan penambahan tokoh.

Maka kita jadi tahu bahwa dalam kitab Mahabarata sendiri tak ada sebutan nama seperti Janoko (jw, berasal dari leksikon arab Jannaka alias Surga, simbol ultimasi dari keinginan semua tokoh pewayangan). Semar yang berasal dari sammirun alias sang pendengar yang bijak. Begitu juga dengan Petruk yang berasal dari kata Fatruka dst.

*****
Tiba-tiba saja seperti terdengar syair "ilir-ilir" sang Raden yang kemudian dikenali sebagai Sunan Kalijogo nglangut pelan-pelan. "Cah angon/Cah angon penekno blimbing kuwi/Lunyu-lunyu penekno/Kanggo masuh dodotiro." Wahai penggembala/Ambilkan buah belimbing/Meski jalan untuk memanjatnya sangat licin/Tetap saja ambilkan/Agar bisa membasuh (isi) dada yang kotor..."

*****
Rasanya kita butuh banyak penggembala yang ikhlas menyuarakan kebenaran. Untuk mengusap dada pemimpin negeri. Agar menjadi bersih. Agar tak lagi berlogika membicarakan kebijakan pengentasan kemiskinan di hotel berbintang. Mengkhotbahkan soal moral sambil merangkul ladies escort di kelap malam. Menyeru penghematan sambil menghamburkan uang di sudut pertokoan berkelas saat kunjungan ke luar negri. Dan berapi-api memompakan semangat kemandirian sambil melego aset dan kekayaan pertiwi melalui makelar penjualan BUMN di Singapore. Meneriakkan pemberantasan korupsi sambil menyembunyikan Besan dan kawan se-Partainya di kantong kekuasaan.Dan Menunjuk hidung bawahan yang mengantuk saat berpidato karena dianggap abai dengan kata-katanya, tetapi menyumpal kuping sendiri dengan earphone saat teriakan rakyatnya yang lapar, dan lolongan kepedihan korban pekerja ter-PHK mulai mendekati istana kekuasaanya. Duh..

*****



Read more

11 November 2011

Walmiki, Rahuvana Tattwa, Shinta, Rama, dan Political Branding

90 comments
Saya sangat tergoda dengan tema besar dalam Novel Rahuvana Tattwa, yang seolah langsung menodong Walmiki dengan pertanyaan sejak awal halaman : "Benarkah Rama adalah seorang ksatria ? Kalau jawabannya ya, maka kenapa Rama membunuh Subali yang menjadi musuhnya dari belakang? (selayaknya perilaku tokoh licik saja).

Kenapa Rama (juga) menghukum buang Shinta ke hutan. Bahkan tetap dingin saja. Hati bagai batu, ketika Shinta yang sedang dalam kondisi kebatinan yang carut-marut, melakukan tindakan 'bunuh diri' dengan cara membiarkan tubuh kekasihnya itu ambles ditelan bumi (Hanya untuk membuktikan bahwa dirinya tak pernah selingkuh?")

Dan sebaliknya. Benarkah Rahwana yang menjadi lawan Rama adalah demon atau raksasa yang haus darah, keji, amoral, anarkhis dan licik? Padahal pada saat yang sama Walmiki -sang penulis buku Ramayana- mengakui bahwa kerajaan Rahwana adalah kerajaan yang tapal batas negaranya berbenteng tembok tinggi. Memiliki pemerintahan yang teratur dan memiliki tata kota yang rapi jali? Bahkan seluruh rakyatnya sangat mencintainya dan rela berkorban sampai titik darah penghabisan untuk membela raja yang dicintainya itu?

Apa yang dilakukan Walmiki dalam menggiring emosi kita agar memihak kepada Rama, sebenarnya sebangun dengan cara Columbus bercerita tentang heroisme armadanya saat ‘memerangi Indian yang barbar’. Atau cara Cook menuliskan ‘perang peradaban’ saat menghadapi ‘Aborigin yang primitif, haus darah dan anarkhis’.

*****

Penaklukan suku asli, melalui perang yang tak berimbang antara Rama dan Rahwana. Atau antara Colombus dan Indian, serta Cook dengan Aborigin bukanlah sesuatu yang salah. Apalagi dosa besar. Begitu kira-kira mindset yang hendak ditanamkan dalam pikiran kita. Sehingga yang nampak dalam ingatan kita hanyalah sebuah tagline besar: Si Rupawan Rama, Si Penemu Benua Amerika Colombus dan Si Pembebas Australia Cook adalah tokoh ‘si baik’ yang berturut-turut sedang memberantas kejahatan, keterbelakangan dan primitifisme. Jadi sah-sah saja bila dalam perjuangannya ‘si baik’ menghalalkan semua cara yang sejatinya kita haramkan, seperti:i merampas dan membakar rumah penduduk asli, memperjual-belikan tawanan, bahkan sangat sah pula bila tokoh kita tersebut melakukan genosida sekalipun.

*****

Sementara Rahwana yang sangat dicintai pengikutnya. Tahu etika diplomasi, karenanya tak sekalipun pernah menyentuh Shinta -walau hanya sekedar sentuhan tangan- padahal Shinta adalah tawanan perangnya. Bahkan sebaliknya, Rahwana menempatkan Sintha dalam tamansari, bukan kerangkeng penjara. Bandingkan dengan sikap Rama yang malah membuang Shinta ke hutan dan membiarkannya bunuh diri.

Lalu mengapa Rahwana justru digambarkan sebagai monster. Demikian juga dengan Indian Inka dan Aborigin. Para pemimpin suku bangsa yang hidup mengakar rumput. Selalu menjaga kelestarian ekosistem dan hidup harmoni justru kita cap sebagai ‘si buruk’ yang barbar .

Mengapa semua kejahatan yang dilakukan oleh ‘si baik’ kita anggap absah? Dan semua kebaikan yang dilakukan ‘ si buruk’ tak membuat kita adil bersikap? Karena tokoh ‘si baik’ telah menyihir kita dengan political branding alias politik jual citra. Sehingga kita ikhlas untuk menutup rapat akal sehat dan daya kritis kita.

*****

Kini, dengan mesin political branding yang sama, pemerintah mencoba menjadi tokoh ‘si baik’. Jika pikiran kritis yang kita miliki tak segera kita hidupkan. Maka bailout yang mengakibatkan negara kehilangan 6,7 triliun dalam Centurygate. Kasus Dana pemenangan pemilu partai penguasa. Kasus manipulasi dan penggerusan Uang Negara di beberapa departemen oleh Bendaharawan Partai Demokrat dan banyak lagi tersebut kita anggap bukan tindakan kriminal . Kongkalikong untuk membangun ‘hotel bintang lima’ di penjara adalah wajar. Keputusan membiarkan UMKM nasional terlantar di pasar bebas asia adalah keniscayaan. Dan perilaku bermewah-mewah dengan mobil dinas baru serta pesawat kepresidenan pribadi saat banyak musibah menimpa negeri adalah kemodernan.

*****

Oleh karena itu, politik pengalihan issue, alias menutup isu substansi berupa dekonstruksi kekuatan KPK dengan issue murahan, harus tetap dicermati. Agar KPK segera dapat menyeret siapapun yang terlibat dalam kongkalikong pembangkrutan secara negeri ini secara sistemik.

Karenanya, sekali lagi. Jangan berhenti bersikap kritis. Sebab bersikap kritis dan ‘beroposisi’ bukan berarti kita membela ‘si buruk’. Siapapun pelaku kejahatan, meskipun yang melakukan kejahatan tersebut adalah ‘si baik’ tetaplah sebuah kejahatan.

Kita sudah jenuh dengan politik jualan citra dalam political branding ala sinetron. Jangan mau lagi menjadi pengikut politik pejah-gesang. Pejah – gesang, mbelani ‘si baik’ dan memusuhi ‘si buruk’ tanpa reserve. Masak, kita mbelani rezim yang berbuat salah secara mati-matian layaknya ‘tokoh si baik’ dalam sinetron. Emangnya kita hidup di negara Sinetronesia dimana tetesan keringat dan cucuran darah pejuang kemerdekaan hanya adegan filem sahaja ?!

*****

ditulis Ulang di Rejondani, Sleman Yogyakarta


Read more

26 October 2011

Catatan Satu Suro 1945 Wawu, Satu Muharam 1433 H: Seandainya Bersama Kita Bisa

21 comments
Ibunya Hantamah binti Hasyim bin Al-Mughirah. Ayahnya seorang tokoh lokal bernama Nufail Al Mahzumi. Pertumbuhan fisiknya kukuh kekar. Kerap memenangi perkelaihan di masa mudanya. Penyelamat kabilah jika terjadi perang antar suku. Namun saya kira bukan alasan tersebut yang membuatnya dianggap sebagai pengganti Hamzah bin Abdul Muththalib dalam pemberian perlindungan kepada sang Nabi di saat masa sulit.

*****

Menurut banyak catatan sejarah. Dia termasuk pengikut sang Nabi yang terbebas dari boikot ekonomi dan hukuman sosial. Sanksi yang diterapkan petinggi Mekkah terhadap pengikut gerakan Muhammad. Dokumen sejarah lain, malah mencatat dia sebagai satu-satunya peserta rombongan yang mengumumkan secara resmi keikutsertaannya untuk eksodus , justru pada saat eksodus itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari penghadangan. "Jika diantara kalian ada yang ingin anaknya menjadi piatu,dan istrinya menjadi janda, silakan halangi (perjalanan) saya", begitu yang dikatakannya kala itu. Di depan para petinggi Mekkah yang hendak menghadangnya.

*****

Sekaku itukah sikapnya? Benar ! Dia memang sangat kaku dan tegas terhadap kelompok orang yang menjunjung tinggi ketidak-adilan sosial. Bahkan cenderung ketus bila berhadapan dengan penggila kekuasaan dan penindas kaum pinggiran. Namun. Dia juga sangat lembut, bahkan acap menangis sendirian bila mendengar kabar ada dua atau satu saja -dari sekian banyak rakyatnya- masih miskin atau terpinggirkan secara struktural, atau karena jangkauan pemerintahannya gagal mendistribusikan kemakmuran.

Dialah Khalifah, Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan kedua yang hampir tiap malam waktunya dihabiskan untuk meronda tiap sudut gang di wilayah negara sendirian. Untuk menyelidiki apakah ada warga yang masih kelaparan atau masih melarat. Bahkan dia sendiri yang akan memikul sembako seperti gandum atau kurma untuk diserahkan kepada mereka.

Dialah orang dekat Nabi Muhammad yang bila sudah selesai menjalankan tugas kenegaraannya. Segera mengganti lampu penerangan, alat transportasi dan menanggalkan semua fasilitas negara. Dengan peralatan hidup pribadi yang sederhana. "Karena setelah melaksanakan tugas kenegaraan. Saya adalah warga biasa seperti kamu sekalian". Begitu keseharian kehidupannya saat menjadi Kepala Negara.

Dialah tokoh yang untuk penegakan hukum di dalam negeri. Tokoh yang tak segan-segan melakukan eksekusi sendiri pelaku korupsi dan pencurian hak sipil warganya. Tokoh dengan kebijakan luar negeri yang tak segan menantang perang secara terbuka negara adikuasa saat itu, Romawi. Karena sikap penindasan negara adikuasa tersebut terhadap negara-negara kecil yang menjadi jajahan atau wilayah protektoratnya. Karenanya, tak terlalu mengherankan jika Michael H. Hart pun terpaksa mengakuinya sebagai orang paling berpengaruh dalam The 100-nya.

Ya. Dialah Ummar bin Khattab. Orang yang menyerap nilai eksodus dengan serapan subtstantif. Dan dia pula yang selalu menyampaikan pentingnya nilai eksodus. Juga pentingnya substansi eksodus itu sendiri bagi generasi berikutnya. Karena itu pula, maka dia merasa perlu untuk menetapkan peristiwa monumental yang menempuh jarak 470 km tersebut sebagai dimulainya penghitungan Kalender Islam. Peristiwa yang belakangan dikenal sebagai peristiwa Hijrah.

Untuk apa semua itu dilakukannya? Agar generasi berikutnya selalu mengingat nilai penting peristiwa tersebut lebih dalam. Lebih substantif: Hijrah dari sikap cuek bebek terhadap terjadinya ketidak-adilan sosial. Dari sikap hedonisme. Dari sikap menjadikan kekuasaan, gelimang harta dan kemewahan jabatan politik sebagai tujuan hidup menuju keberpihakan kepada kelompok jelata. Pembelaan terhadap pihak tertindas. Dan kekuasaan politik untuk menyejahterakan rakyat.

Akhirnya, selamat menjadikan momentum tahun 1433 Hijriyah. Selamat menyerap makna Hijrah dengan serapan yang lebih substantif: Mari kita paksa siapapun yang memegang amanah kekuasaan di negeri ini untuk mereformasi perilaku. Agar kegemilangan negeri yang mereka janjikan semasa putaran kampanye kemarin bukan sekedar jualan mimpi di siang bolong belaka !

Read more

02 October 2011

Keindonesiaan WNI Keturunan, Ketupat, Cap Gomek, Kauman, Mudik Iedul Fitri dan Laksamana Cheng Ho

60 comments
Adakah keterkaitan antara Lebaran, Mudik, Cap Gomek, Kebab,Kampung Arab, Kauman, Masjid Cheng Ho dengan Keindonesiaan WNI Keturunan?

Jawabanya bisa bermacam-macam. Yang Jelas,sejarah kita mencatat,ada nama dengan pengejaan Tionghoa yang dianggap sangat besar jasanya di abad ke-15,yakni: Cheng Ho.

Karenanya, tokoh yang (juga) dikenal dengan Laksamana Zheng He. Bergelar Sam Poo Yay Djien tersebut diabadikan sebagai nama dua buah Masjid di ibu kota propinsi: di kota Surabaya bernama Masjid Muhammad Cheng Ho dan di Palembang dinamai Masjid al Islam Muhammad Cheng Ho. Dan sebuah masjid yang dikelola sebuah Pemda Pasuruan (juga) dengan nama Masjid Muhammad Cheng Ho.


Begitu besar peranannya bagi dunia perdagangan, proses asimilasi bangsa dan sekaligus bagi sejarah Islam di indonesia. Tak heran bila National Geographic Magazine di tahun 2005 mencoba merekonstrukasi perjalananya. Jejak perjalanan yang dimulai dari Yunnan (RRC) sampai Swahili (Afrika) tersebut di pamerkan dalam sebuah Pameran Foto di Universitas (Kristen) Petra Surabaya. Dan (masih pada tahun yang sama) di Semarang, di diselenggarakan Seminar Nasional Membincang Kontribusi Tionghoa dalam Proses Islamisasi di Indonesia untuk memperingati kedatangan 600 tahun Cheng Ho alias Sam Poo Kong di Semarang medio 2005.

*****
Ada banyak jejak peninggalan Cheng Ho di Nusantara. Adanya Lonceng Raksasa Cakra Donya di Aceh. Piring Ayat Kursi di Cirebon. Ukiran Padas di Masjid Kuno Mantingan, Jepara. Menara Masjid di Pecinan Banten (Jawa Barat). Konstruksi serta Ukiran Pintu Makam Sunan Giri di Gresik (Jawa Timur). Arsitektur Keraton dan Taman Sunyaragi di Cirebon (Jawa Barat). Konstruksi Soko Tatal dan ukiran kura-kura pada Masjid Demak (Jawa Tengah). Konstruksi Masjid Sekayu di Semarang. Kesemuanya merupakan jejak tentang adanya pengaruh misi damai Islam dan perdagangan internasionalnya di ranah Nusantara.

Bahkan di tempat persinggahannya di pelabuhan Semarang Tempo Dulu, Simongan. Cheng Ho diyakini sempat membangun tempat Pasholatan atau musholla yang berbentuk Lorong Goa. (Sayang setelah restorasi situs rersebut tertutupi bangunan baru yang berupa Klenteng Sam Poo Kong. Silakan baca juga wawancara singkat saya dengan pengelola Yayasan Klenteng Semarang dan a href="http://semarangreview.blogspot.com/2008/02/wawancarasaya-ketua-yayasannya-saya.html">Yayasan Klenteng Semarang dan Jejak Cheng Ho di Semarang atau Ringkasan Sam Poo Kong di Semarang)

*****
Tapi, yang menjadi pertanyaan saya di penghujung postingan ini. Kenapa di negara kita, Indonesia. Negara yang mengaku pewaris absah dari kerajaan-kerajaan Islam, Budha, dan Hindu. Negara dengan batasan wilayah yang disebut sebagai Nusantara. Dan dibangun dengan sejarah kontribusi ke-etnis-an yang dahsyat. Masih saja ada pengucapan WNI Keturnan untuk orang berlatar belakang etnis Tionghoa (China). Tetapi tidak ada julukan WNI keturunan Arab, misalnya?

Taruhlah, karena alasan keturunan Arab dianggap berjasa terhadap ke-Islam-an mayoritas pribumi. Bukankah China (Cheng Ho dan armadanya) juga memiliki saham terhadap ke-Islam-an Indonesia sejak abad 14.

Atau dengan kata lain, Cheng Ho adalah orang yang ikut ambil bagian dalam proses pendirian Negara (Kerajaan) Islam Pertama di Tanah Jawa, yaitu Demak yang biasa disebut dengan Mataram Islam (1475). Bahkan sajarawan nasional Mukti Ali ,mengajukan teori sejarah ini sbg antitesis Islam Indonesia disebarkan melalui Gujarat seperti yang dilansir Snouck Hugronje. Demikian juga dengan Buya Hamka. Seperti yang tertuang dalam sebuah tulisan medio 8 Maret 1961 , di majalah Star Weekly (juga) mengatakan tentang peran besar Cheng Ho dalam penyebaran Islam di Indonesia . Nah Loh...


*****
Saya jadi bersyukur, karena rute perjalanan mudik saya beberapa tahun terakhir bisa menyinggahi berbagai situs hidup tentang sejarah Islam. Termasuk keanekaragaman menu masakan. Mulai Ketupat Kauman, Lontong Cap Go Mek Pecinan, Kebab Turki, dan tentu saja Nasi Kebuli-nya Kampung Arab. Sebuah fakta baru, bahwa Indonesia adalah sebuah negara dengan pondasi sejarah masa lalu yang besar dan dahsyat.

Namun, kini. Dibalik seluruh kekaguman. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di dada. Sebuah pertanyaan yang tak kalah besarnya: Kenapa kita tak mampu memanfaatkan kultur mudik, Idul Fitri atau Ied Mubarak sebagai sarana rekonsiliasi kultural. Agar kegemilangan masa depan bangsa ini segera terwujud.

Ah seandainya, Amin Rais, Gus Dur, Megawati, Prabowo, Meutia Hatta, Sutrisno Bachir, Kalla, SBY, dan Wiranto, Yusril Ihza Mahendra melihat fenomena kultural 'Idul Fitri atau Ied Mubarak ini dengan mata yang lebih jernih. Fenomena di mana per-maaf-an, rasa saling berbagi, mobilisasi dana pusat daerah, identity-maker, nilai ketakwaan dan kesalehan sosial sedang menemukan momentumnya.


Read more

13 July 2010

Putri Raemawasti vs Atlet Lisa Rumbewas, Who is More Deserve to be Called Hero of The Nation?

7 comments
Putri Indonesia Raemawasti,mengaku mewakili perempuan Indonesia. Siapa Berhak mengatasnamakan Indonesia?

Bisakah Raemawasti menyebut mewakili Indonesia dalam kontes Miss Universe di Nha Trang, Khanh Hoa, Vietnam? Jawabanyya boleh-boleh saja. Karena aturan kepesertaan di ajang tersebut memang mensyaratkan hanya pemenang kontes serupa tingkat nasional sajalah yang diperbolehkan mewakili asal negara.
Tapi bolehkah dia dan sponsor utamanya menyebut bahwa Raemawasti merupakan duta bangsa? jawabnya nanti dulu.Karena banyak menyisakan pertanyaan susulan untuk bisa menjawabnya.

Pertama, sejak awal keberadaan institusi putri indonesia sebenarnya hanya mewakili sponsor satu merek kecantikan saja. Tidak benar2 mewakili Bangsa. Sangat hiperbolis rasanya. Dengan kata lain bila seseorang mengatakan Raema simbol dari indonesia sama dengan mengatakan bahwa indonesia adalah sebuah pabrik jamu dan kosmetika.

Kedua, belum ada pemberian mandat yang signifikan kepada Raema untuk mewakili dan
mengatasnamakan perempuan Indonesia di tingkat manapun.

Ketiga, pentahbisan Rae sebagai wakil perempuan indonesia dengan parameter lebar pinggul, lingkar dada, bentuk pusar dan raut muka ditambah sedikit kecerdasan secukupnya saja. Terasa lebih tepat untuk dikatakan parameter escortisme 'dunia malam'. Sementara pantaskah segregasi sosial kelompok masyarakat ini disnggap absah mewakili para jutaan perempuan yang tiap hari berlatih olahraga untuk mewakili negaranya, puluhan juta cendekia perempuan yang berkutat dengan teorema akademis. dan ribuan artis yang bergulat dengan tarik suara dan akting atau jutaan seniman lokal yang malang melintang mengasah 'rasa seni'?

Keempat,permaluan yang belum juga terobati semenjak adegan gagap bahasa asing saat putri terdahulu Nadine dan terlihat 'oon' didepan juri.Dan tak adanya prestasi yg signifikan, kecuali keberuntungan pribadi yang bersangkutan baik publisitas maupun ekonomi pribadi.

Ke enam, Rasa ketidak adilan yang terlalu besar dari orang yg dilahirkan cantik dengan org yang dilahirkan biasa2 saja tetapi bekerja keras puluhan tahun mengejar presatasi. Artinya, pengakuan orang terhadap Rae sebagai pewakil perempuan Indonesia sama dengan pengakuan kasta sosial dalam bentuk baru: kelas cantik, kelasbiasa2 saja, dan kelas dibawah garis kecantikan.

Ketujuh, rasanya makin banyak saja argumentasi saya.
Saya hanya mencoba bersikap adil dgn anak2 muda kita yg tiap hari berjibaku dgn matematika, fisika, sains dan teknologi untuk memenangi olimpiade sains.Atau dengan atlet kita.
Bandingkan dengan nasib Lisa Rumbewas pemegang Perak Olimpiade sidney 2000, yang berlatih siang malam selama bertahun2 hanya untuk meraih perak olimpiade. tapi apresiasi kita tak nampak semeriah Raemawasti. Apa hanya karena dia berhidung pesek, berkulit hitam dan berambut kriting tanpa make up?
Read more

15 March 2008

leifestyle: CAFE RESTO SEMARANG

3 comments
Lifestyle : Tempat Rendezvous
Semarang Kota

Alam Indah Resto
. Setiabudi * Bakmi Pandanaran. Pandanaran*Bakoel Desa. Plampitan *Basilia. Java Supermal* Bentuman Steak. Taman Beringin * Black Canyon Coffe. Hotel Candi Baru*Bentuman Steak. Taman Beringin * Rinjani View* Boundy Restaurant. S.Parman * Brux The Bistro. Rinjani * Charmi Snow Ice. Jembatan Plaza Simpanglima* Cibiuk. Patimura * Cobek Raos. Puri Anjasmoro * Dyriana Bakery. Pandanaran * Excelso. Mal Ciputra * Florian. MT. Haryono * Gama Candi Resto. Sultan Agung * Gang2 Sulai. Diponegoro * Harumi Restaurant. Puri Anjasmoro* HK Dessert. Java Supermal * Holiday Restauran. Ruko Pandanaran * Ikan Bakar Cianjur. Letjen Suprapto* Istana Wedang. Pemuda * Kopi Luwak Caffe. Java Supermal * Le Resto. Sultan Agung* Lind’s Caffe. Papandayan * Nori Kitchen Lounge. Jangli Raya * On-On Pub. Rinjani * Palace Restaurant. Thamrin square NIGHTLIFE Astro Café. Java Supermal * Club 123. Novotel Hotel * E Plaza. Gajah Mada Plaza * Family Fun. Pandanaran * Happy Pupy Karaoke. Moch Suyudi* Hugo’s. Plaza Simpanglima * Mantra Café & Lounge. Thamrin Square * Planet Billiard. Java Supermal * Rinjani View. Rinjani * Tree monkeys. Mal Ciputra * Tung De Blanc. Sultan Agung.
Read more

Labels