Akhirnya terlaksana juga. Berlibur bersama. Tak ada yang istimewa. Kecuali dua hal. Pertama, gaya berliburnya yang ala backpacker. Alias Gaya Orang Berlibur Seadanya. Kedua, tak pernah melewatkan setiap momentum dengan eksperimen sebagai model foto. Alias menarsiskan diri seolah Model atau Bintang Film . Kali ini mengambil tema berfoto ala Laskar Pelangi.Maklum selama ini mereka merasa menjadi orang yang paling jarang me-nongol-kan foto diri. Apalagi sebagian backpackers kali ini adalah pewarta foto, dan kuli berita. Apalagi saat memasuki kota Yogyakarta. Rombongan dijamu teman pewarta foto yang malang melintang melayani kantor berita Agence France-Presse (AFP) dan Kantor Berita dan belakangan KBN Antara. Kloplah. Pucuk dicinta ulam tiba.
*****
Pilihan rute Semarang - Salatiga (Kopeng) - Magelang -Muntilan -Yogyakarta - Parang Tritis - Bantul - Muntilan - Magelang - Ambarawa - Semarang, salah satu alasannya adalah agar banyak yang bisa dianikmati. Mulai Kebun Strauwbery di Kopeng Salatiga. Jalur pegunungan berhawa sejuk menuju titik pandang Ngetep yang tak kalah yahud dengan jalur Gilimanuk -Lovina- Benoa di Bali.
Tentu saja setiap adegan foto menirukan cara artis berpose. Karena sedang rame- ramenya model foto ala bintang film Laskar Pelangi, maka disepakati untuk mulai latihan pose ala artis atau model.
Dilanjutkan dengan makan siang (tepatnya makan sore) di Muntilan. Sempat memutari Muntilan sekedar hunting rumah makan yang murah meriah tapi rasanya tetap nendang. Setelah makan siang selesai. Perjalanan dilanjutkan ke Yogyakarta. Tidak mampir di Borobudur. Karena obyek Borobudur pernah kita sasar sebelumnya.
*****
Setelah menemukan Puri Pangeran, sebagai tempat menginap. Yang terletak di belakang Puro Pakoealaman. Maka kesempatan digunakan untuk mandi dan melepas lelah sejenak. Selepas Isya dilanjutkan lagi. Kali ini yang disasar adalah Malioboro. Nama jalan yang bermakna Sekuntum Bunga (asal bahasa Sansekerta) menjadi tempat yang patut dinikmati. Apalagi jalan yang dibangun Sri Sultan Hamengku Buwono I di 1758 kini telah menjadi ikon Kota Budaya tersebut.
Layak dinikmati bagaimana lalu-lalang turis lokal maupun asing yang memadati pedagang souvenir. Juga orang-orang yang menikmati nasi gudeg lesehan di sepanjang selasar Malioboro tersebut. Setelah window shopping alias liak-liak doang tanpa membeli apapun, akhirnya bisa juga menikmati es krim goceng-an di sebuah waralaba cepat saji sambil nongkrong sejenak di trap entry Mall nya,
Untuk acara makan malam di pilih Gudeg Lesehan Berlian yang terletak di pertigaan Jl Gajah Mada Yogyakarta. Tepatnya berada di belakang Gedung Filem Berlian Pakualaman. terus dilanjutkan menikmati suguhan Kopi Joss. Kopi yang dimasak dengan arang kayu. dan kemudian dihidangkan beserta celupan arang bara di sisi kanan Stasiun Tugu. Lumayan hangat suasananya, terlebih di selingi acara Nyanyi Bareng pengamen jalanan dengan tema Lagoe2 Jadoel.
Tentu saja di lanjutkan dengan acara photo ala Kabayan Saba Yogyaa alias Orang Udik Masuk Kota. Lokasi yang dipilih adalah landmark Kota Yogya, yaitu Tugu. Terletak di perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro.
Tugu sebenarnya merupakan Pangeling (pengingat) Konsep Manunggaling Kawulo Gusti atau bersatunya raja - rakyat di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Setelah gempa di tahun 1867, Belanda merenovasi kembali Tugu yang hancur tersebut. Dan sejak itu Landmark KotaYokyakarta ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.
Selanjutnya. Tentu saja kembali ke Puri Pangeran di Pakualaman. Acara resminya sih istirahat. Tapi, mana mungkin? Dengan kebiasaan melekan sampai dini hari. Akhirnya ngobrolin ngalor ngidul. Sambil nyusun rencana dadakan: nengokin teman wartawan yang sempat menjadi biro internasioanal sebuah media ibukota. Perlu ditengok karena dia baru melahirkan.
*****
Pagi, setelah semua selesai mandi dan sarapan pengganjal perut dari complimentary Puri Pangeran. Langsung lanjut ngemasin barang dari kamar hotel. Check out.menjelang siang. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan menikmati Puri Pakualaman. Kemudian berpose alakadarnya sejenak. Kali ini ngajak Komandan Jaga Gapuro Puro Pakualaman.
Bereksperimen foto dimulai dengan pengambilan foto dari sudut miring cermin buram yang terletak disisi kanan Gerbang Puri Pakualaman. Sambil try and eror pose ala Lasykar Pelangi.
Dilanjutkan dengan sarapan kedua, alias makan agak siangan dikit dibawah pohon beringin kembar. Tempatnya persis terletak di sisi kiri Alun-Alun Puro Pakualaman.
Selanjutnya usai ishoma, backpakers dadakan ini menuju Tamansari. Sebuah bangunan lama diatas lahan 12.5 Ha. Dibangun atas prakarsa Sultan Hamengku Buwono I tahun 1757. Berarsitektur Barok Eropa Abad 18 dengan gaya Ottoman yang mewah. Maklum situs ini dibangun oleh arsitek asal Portugis yang pada jaman itu sedang dilanda demam arsitektur gaya barok. Tak jelas benar namanya, namun biasa disebut oleh pemandu wisata sebagai Demang Tegis.
Sayangnya, menurut rilis Unesco tahun 2004 , situs ini termasuk dalam 100 situs dunia yang paling terancam alias Most Endangedered Sites. Karenanya tak heran bila eks laut buatan-nya kini menjadi perumahan penduduk yang tak teratur. Terlebih setelah gempa melanda Yogyakarta dan sekitarnya beberapa tahun silam: Kemewahan taman sari menjadi tak bersisa sedikitpun.
Di Reruntuhan Gerbang Tamansari ini try and eror pose ala bintang Film dilakukan lagi. Dimulai dari Mulai foto gaya orang bengong di eks jendela Masjid Pendem (masjid bawah tanah), lorong antara reruntuhan, sampai lokasi shaf sholat di dalam masjid.
Perjalanan di lanjutkan ke pantai Parangtritis. Pantai yang terletak di wilayah administrasi Bantul ini merupakan pantai pesisir Laut Selatan atau Samudra Hindia. Melepas lelah sejenak setelah perjalanan sejauh 25 kilometer dari Yogyakarta, dengan Es Kelapa Muda.
Setelah itu,acara ber-narsis ria dilanjutkan. Kali ini pose ala loncat-loncat mengindari deburan ombak. Tapi hanya siluetnya saja yang di tonjolkan. Mengingat latar belakang sunset dibelakangnya mulai menguning-kemerahan.
Dan akhirnya, selesai juga. rencana mematut diri ala pemain filem yang diambil dari novel laskar pelangi-nya Andrea Herata. Silakan menikmati pose kami yang dadakan dipaksa berfoto ala cover utama filem Laskar Pelangi.
Misi selesai. Nostalgia kami pun selesai. Bukan nostalgia romantisme. Tapi nostalgia menelusuri rute saat pontang-panting peliputan Gempa Yogyakarta. Beberap tahun silam. Itu alasan utama kenapa melitasi rute emarang - Salatiga (Kopeng) - Magelang -Muntilan -Yogyakarta - Parang Tritis - Bantul - Muntilan - Magelang - Ambarawa - Semarang












































Twitter Follow my tweets!
Delicious What I've been reading.
Blogger What I'm writing.
Behance My artworks.