About me

Blog

Showing posts with label esai. Show all posts
Showing posts with label esai. Show all posts

29 April 2012

#Hardiknas: Ayolah, Sudah Saatnya Kita Jujur Berkata tentang Sejarah

42 comments
Sejak beberapa waktu silam. Ditemani kawan jurnalis. Kembali, saya memutari hampir semua Pameran Buku. Mencoba mengaduk- aduk tumpukan buku sejarah. Khususnya tentang sejarah kemerdekaan bangsa. Banyak buku. Dari berbagai penerbitan yang diperuntukkan sebagai pendamping atau buku utama pelajaran sejarah di sekolah.

Namun buku sejarah tetap saja menulis seperti tahun-tahun sebelumnya. Nyaris tak ada perubahan fundamental. Selalu saja anak-anak SMP dan SMA kita disuapi dengan narasi sejarah, bahwa hanya ada dua nama besar. Figur sentral: Yaitu dua orang pembaca naskah proklamasi Sukarno-Hatta sebagai figur utama. Sedang tokoh lainnya, hanya ditempatkan sebagai pemain figuran dalam sejarah kemerdekaan.


Padahal semua orang mengetahui, bahwa ada puluhan tokoh utama sekaligus yang tergabung dalam BPUPKI, atau tokoh lainnyaseperti Sudirman, Tan Malaka, M Natsir, Bung Tomo (Surabaya), Supriadi (Blitar), Haji Mohammad Thoha (Tasikmalaya), Otto Iskandar Dinata (Bandung), Daud Beureuh (Aceh), Maridjan Kartosuwiryo ( Siliwangi, Pasundan), Amir Syarifudin, Syafrudin Prawiranegara (Sumatera), Haji Tirta (Betawi), Mgr sugiyopranoto, yang sangat layak untuk ditampilkan sebagai tokoh utama kemerdekaan .

***

Lalu mengapa sepertinya sejarah bangsa yang sangat besar ini hanya menyorot dua figur pembaca proklamasi saja. Seolah sebuah filem. Sukarno-Hatta ditempatkan sebagai pemain utama. Selainnya adalah pemeran pembantu dan figuran semata?

Padahal semua orang tahu. Bahwa, sebagian besar akar pemikiran Sukarno kerap berujung pada pemikiran Tan Malaka, dan HOS Tjokroaminoto. Cobalah lihat Sukarno beberapa kali menenteng buku tulisan Tan tentang konsep republik. perhatikan gagasan-gagasannya yang tertuang dalam Api Islam yang memuat banyak pokok-pikiran Tjokroaminoto sang mertua yang sekaligus mentor politiknya. lalu cermati sebagian besar naskah pidato Sukarno yang dikemudian hari sangat terkenal itu ternyata adalah naskah yang dihasilkan dari diskusi dan polemik kenegaraan dengan A Hasan atau M. Natsir.

Demikian juga dengan Hatta. Orang sering melihat hanya dia yang pantas menjadi simbol ketaatan administrasi dan keteladanannya dalam hidup sederhana. Namun, cobalah untuk menjawab pertanyaan ini: Siapakah tokoh pejuang kita yang hidup berkecukupan dikala itu?

Cobalah sesekali menegok Natsir. Hanya mampu mengenakan jas bertambal saat dilantik sebagai Menteri Penerangan. Dan tetap sederhana sampai jabatan Perdana Menteri ke-5. Rumahnya hanya kontrakan dibilangan Jakarta Pusat. Rumah pemberian negara saat dia pensiun dari perdana menteri tak mampu ditempatinya karena Pajak Bangunan (PBB) yang tinggi. Selalu meninggalkan mobil dinas dan berganti kendaraan umum. seringnya nunut boncengan sepeda motor DN Aidit pulang seusai sidang kabinet. Karena pulang dari urusan dinas adalah urusan pribadi, begitu pendapatnya. Atau tengok pula H Agus Salim. Tokoh yang tak kuat membayar listrik untuk penerangan rumahnya yang kecil saat posisinya sudah menjadi diplomat dan menteri Luar Negeri.

*****

Soal perlawanan rakyat semesta di pinggiran kota? Tengoklah Kyai Hasyim Asy'ari. Tokoh kaum bersarung yang tak lelah mengajarkan tradisi perlawanan terhadap kolonialisme di serambi pesantren. Si Tenang yang kemudian membuat sebuah resolusi terpenting bagi perlawanan dan perjuangan kemerdekaan di pelosok negeri. Resolusi Jihad namanya. Resolusi yang belakangan diketahui telah menggerakkanperlawanan dengan cara nekad meskipun senjata yang ada hanya bambu runcing dalam perang suci 10 Nopember Surabaya.

Pertempuran yang tak seimbang dari tinjauan militer. Tapi itulah pertempuran yang mempermalukan Brigade 49 dari Divisi V yang diboncengi NICA. Sekedar tahu, pasukan inggris yang dikenal dengan Fighting Cock, adalah kebanggaan Inggris yang berhasil menghancurkan Burma, menghajar Jepang di Asia Tenggara dan medan tempur lain waktu itu. Bukan itu saja, dalam pertempuran ini pula, sejarah Inggris yang tak pernah kehilangan jenderalnya di medan pertempuran manapun menjadi terpatahkan. jenderal Mallaby tewas hanya dalam hitungan minggu di medan pertempuran 10 Nopember itu.

*****
Soal kegigihan mempertahankan republik dengan tentara reguler? Tengoklah mantan guru Sekolah Muhammadiyah di Cilacap kelahiran Banyumas, yang memilih bergerilya: Jenderal Sudirman. Hampir tak ada bukit yang tak dilintasinya, di pulau Jawa ini. Hanya untuk menggerakkan pasukan dan relawan perang. Taktik gerilya dan sistem Hankamrata yang disusunnya bersama Tan Malaka. Mampu menahan Belanda memasuki daerah pertahanan terakhir. yang sekaligus ibukota peralihan, Jogyakarta.

Ini yang ingin saya ceritakan: Dia melakukan semua peperangannya dengan berjalan kaki. Sedikit berkuda. Dan terbanyaknya ditandu. Karena paru-parunya sudah membusuk sebelah. Fisiknya tak sekuat tekad dan gagasan besarnya. Kalau kita mengetahui hirarki militer. Maka pangkat tertinggi yang memimpin pasukan di lapangan adalah Kolonel. Jadi, dialah satu-satunya militer yang berpangkat Jenderal penuh, berbintang 4 dipundak, yang masih memimpin pasukan di medan laga sampai fisiknya tak mampu digerakkan lagi.


Tak heran bila, suatu hari Sukarno. Merasa perlu "menghadiahi dirinya sendiri" dengan sebutan Panglima Tertinggi Angkatan Perang Jenderal Soekarno. Tidak cukup itu. Dia bahkan menambah satu bintang lagi untuk dirinya. Menjadi berbintang 5 dipundak. Hanya karena wibawanya tak tertolong lagi dikalangan gerilyawan saat itu. Hal yang sama ditiru Suharto beberapa puluh tahun kemudian untuk alasan bermiripan.

*****

Rupanya sejarah tetap bertahan dengan pemeo lama. Bahwa dogma kekuasaan kadang lebih dimenangkan demi kepentingan politik sesaat dibandingkan keontetikan sejarah itu sendiri.

Karenanya, pada peringatan Hardiknas kali ini. Saya ingin mengajak santri-santri kecil saya di pesantren Tahfidz Qur'an untuk menziarahi makam yang tak ada penyebutan kata "pahlawan" di pusaranya. Tapi saya cukup yakin, bahwa pemilik jasad yang telah berkalang tanah disitu. Sedang tersenyum dengan senyuman termanisnya saat menghadap Sang Khaliq. Bahkan, mungkin dengan jenis senyuman yang mungkin tak pernah bisa dilakukan oleh para aktor utama dalam filem episode sejarah kemerdekaan kita sekalipun.

*Ditulis kembali sebagai surat untuk Seorang Guru
dari Mushollah kecil Pesantren Tahfidz Quran Semarang




Read more

28 April 2012

Abu Nawas, Teori EF Soemacher dan Sebuah Harapan

37 comments
Orang Baghdad, Irak mengenalnya sebagai sya'irul bilad. Lahir di kota kecil Ahvaz yang terletak di Iran. Dari ayah bersuku Arab bernama Hani al-Hakam. Anggota tentara biasa di jaman Kekhalifaan Marwan ke II dengan ibu tukang cuci kain tenun asal Persia, bernama Jalban.

Kesehariannya sederhana. Sangat sederhana, bahkan. Bajunya sering tinggal dua setel saja. Satu dicuci, satu dipakai. Konon, karena sering ia gadaikan untuk kebutuhan makan keluarganya. Urusan makan? tak usah ditanya soal standar kandungan gizinya. tentu sangat pas-pasan. Namun kesederhanaan itu tak membuatnya bermuka masam. Sebaliknya, makin ramah saja pada setiap orang yang dijumpainya jika dia sedang menahan lapar.

*****
Kisah tentang tokoh tersebutlah yang saya sampaikan di pojok masjid yang terletak di area Kantor BPK, beberapa tahun silam. Kepadanya. Kawan dekat sejak masih sama-sama kuliah di sebuah sekolah tinggi berbeasiswa di bilangan Jakarta Selatan. Kawan yang saat itu sedang mengalami banyak dilema. Banyak kerumitan.

Pilihan yang sulit baginya. Terlebih setelah keberaniannya mendokumentasikan bukti penyuapan menggunakan hidden camera menjadi penyebab dipenjarakannya seorang petinggi negara. Kesalahan terbesarnya mungkin cuma satu. Dia tinggal di negeri bernama Indonesia. Dimana keberanian dan kejujuran dalam penegakan hukum justru akan menjadikannya dinistakan rejim berkuasa.

Lembaga yang dianggapnya bisa menjadi pilihan untuk menuangkan idealismenya tak lagi mau melindungi dirinya. Kejaksaan Agung justru sibuk mencari-cari kesalahannya. Politisi tentu saja menjadikannya snowboxing statement.

Diam, lalu menemani istrinya yang berdagang baju di sebuah kios kecil di kawasan Ciputat adalah jawaban taktis yang saya berikan kepadanya. Tentu saja setelah nanti selesai menemaninya membuat surat pengunduran diri sebagai auditor bersama-sama.

*****
Lalu saya melanjutkan kisah klasik itu kepadanya. Tentu setelah dia merasa aman dari jurnalis yang sejak sebelum Jum'atan sudah mencari-carinya. karena sedang membutuhkan pernyataan resmi darinya.

Ya. Lalu mengapa Sang Pujangga bersikap aneh? Menjadi Cengengesan. Murah senyum. Ramah menyapa. Justru saat berada di titik terendah kehidupan? Banyak warga Damaskus keheranan dengan sikapnya. Maka bertanyalah salah satu warga kepadanya: "Mengapa engkau malah menjadi sering tersenyum disaat kehidupanmu susah?"

Sang Syairul Bilaad yang dikenal dengan nama Abu Nawas-pun menjawab," Karena saya tahu. Setiap kesusahan dan keterpurukan menimpaku. Berati tidak lama lagi. Setelah itu. Kebahagiaan segera menyambutku.

Seperti ketika malam sudah mencapai puncak kegelapannya. Setelahnya pasti matahari segera muncul dengan sinar keemasannya. Selalu saja begitu. Karenanya saya merasa senang. Sebab esok atau lusa kesuksesan dan kebahagiaan akan menjemputku dengan ramah".


Lalu,
sang Pujangga itu memperjelas argumentasinya. Dengan balik bertanya kepada sang penanya: "Bukankah setiap orang justru sumringah bila dia tahu bahwa sebentar lagi kebahagiaan akan menjelang. Seperti seorang laki2 yang selalu tersenyum bila besok hari dia bertemu dengan orang yang dirindukannya?".

Kawanku hanya diam. Tapi yang penting, Faa idza farogh tafanshob. Wa ilaa robbika farghab" Tapi saya tetap meneruskan kalimat yang belum selesai: "Mari. Segera selesaikan satu perkara. Termasuk keterpurukan saat ini. Dan bersegera mencari Ridla Tuhan. Sambil menunggu kepastian, bahwa sebentar lagi matahari akan muncul menemui kita.

*****
Sayangnya. Hanya singkat waktu yang saya miliki bersamanya. Apalagi beberapa wartawan nasional. Termasuk TV. Segera menghampirinya, begitu mengetahui orang yang dianggap sebagai nara sumber paling diincar tersebut sedang terlihat duduk di pojok masjid yang terdapat di komplek Kantor BPK. Apalagi kalau bukan urusan meminta statemen eklusif darinya. Tentang kasus KPU yang melibatkan tokoh-tokoh yang selama ini dianggap sebagai pendekar anti korupsi.

Segera saya menyuruhnya cuci muka. Agar kekusutnya tak terekam kamera TV.Atau terabadikan di memory card para photographer.

Saya tahu. Dia masih bersedih. Tapi saya kira dia tahu. Bahwa apa yang dikatakan sang Pujangga Kenegaraan Bani Umayyah tersebut benar adanya.

******

Ya. Apa yang saya katakan kepadanya. Atau yang disampaikan Abu Nawas yang memiliki nama lengkap Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami kepada warga kota Baghdad. Adalah cara lain untuk menyampaikan pesan: bahwa jangan pernah kita berhenti berharap. Karena kadang dinamika kehidupan itu dimulai dari adanya harapan.

Seorang ekonom penganut filsafat Gandhi-isme yang asal Jerman, E.F. Soemacher, mengatakan dengan kalimat yang lain. "Selama orang memiliki harapan. Keberhasilan selalu bisa diraih. Bukankah sebatang tanaman selalu bergerak mencari arah sinar matahari saat dia berada di lorong (yang pengap dan) sempit ?" Jadi, apa yang membuat tanaman terus-menerus bergerak? Jawabannya: " Karena tanaman selalu berharap mendapat sinar matahari untuk berfotosintesa demi kelangsungan hidupnya". Karenanya jangan berhenti berharap.





Read more

24 April 2012

Black Hawk, Frank Fosdahl, Yasraf Amir Piliang, Wayang, Sunan Kalijogo, Filsafat, Sains dan Paradoks Pemimpin Negeri Kita

62 comments
Art. Sering dipadankan dengan seni. Terlepas dari transliterasi tersebut, benarkah seni menjadi begitu penting dalam kehidupan seseorang?

Dalam paradigma Barat, seni berarti pertarungan antara iman Kristiani /Yahudi dan paradigma filsafat Yunani, begitu pendapat Frank Fosdhal, warga asing pertama peraih Magister dari ISI Yogyakarta dalam sebuah seminar internasional tentang peneguhan seni dalam kerangka ilmu pengetahuan, beberapa tahun silam.

Sedangkan seni di Indonesia, khususnya Jawa - masih menurutnya- adalah hasil perkawinan unsur filsafat Jawa kuno, Hindu dan Islam. Itu sebabnya orang Indonesia, khususnya Jawa, lebih memandang seni sebagai sebuah manivesto kehidupan. Lebih menekankan seni sebagai essence of art atau substansi seni bagi kehidupan. Jika Barat membawa pikiran seni sebagai knowledge atau ilmu pengetahuan. Indonesia, khususunya Jawa memilih mentransformasikan seni sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri.

Karenanya, seni menjadi media pengajaran keluhuran hidup dan kesantunan dan pengendalian emosionalitas. Makin tinggi penguasaan emosional seseorang makin tinggi tingkat keilmuan dan wisdomnya.
Perhatikan saja, tarian tokoh Arjuna yang mengalir tenang seperti gerak air. Sementara Cakil lebih emosional dan bahkan selalu menghunus keris. Tapi lihat kesudahannya. Cakil terbunuh oleh Arjuna sebagaimana Kala Merica yang emosional terbunuh oleh Rama.

*****
Tak heran bila Amir Yasraf Piliang, orang Indonesia pertama yg mengkaji soal teori Postmodern mengungkap bahwa dalam beberapa kasus, proses penemuan sains malah menggunakan proses kreatif seni. Penemuan teknologi parasut yang meniru binatang reptil terbang, pesawat terbang multi arah yang ternyata terilhami oleh cara kerja binatang tertentu. Konstruksi jembatan sosrobahu yang terilhami kerja mekanis bahu manusia. Tak membuat berlebihan pemahaman bahwa riset yang dilakukan pekerja sains mirip dengan cara pencarian inspirasi dalam proses kerja kreatif .

****


Yasraf seperti menjadi peneguh pandangan bahwa Seni merupakan find away to make a living
Namun terlepas dari teorema soal seni, kebudayaan dan transformasi sosial itu semua. Rasanya menarik memperhatikan kerja seni yang dilakukan seorang anak bupati di tanah Jawa era keruntuhan Majapahit. Kepiawaiannya dalam pengadaptasian media wayang sebagai media penyampai pesan moral dan filsafat hidup. Dan penambahan aroma ritmik sekaligus sunyi dalam musik karawitan dalam pengiring goro-goro dan pertempuran. Serta penambahan nafas suluk dalam setiap tembang yang dinyanyikannya. Melengkapi kerja kreatifnya dalam menyusun narasi cerita dan penambahan tokoh.

Maka kita jadi tahu bahwa dalam kitab Mahabarata sendiri tak ada sebutan nama seperti Janoko (jw, berasal dari leksikon arab Jannaka alias Surga, simbol ultimasi dari keinginan semua tokoh pewayangan). Semar yang berasal dari sammirun alias sang pendengar yang bijak. Begitu juga dengan Petruk yang berasal dari kata Fatruka dst.

*****
Tiba-tiba saja seperti terdengar syair "ilir-ilir" sang Raden yang kemudian dikenali sebagai Sunan Kalijogo nglangut pelan-pelan. "Cah angon/Cah angon penekno blimbing kuwi/Lunyu-lunyu penekno/Kanggo masuh dodotiro." Wahai penggembala/Ambilkan buah belimbing/Meski jalan untuk memanjatnya sangat licin/Tetap saja ambilkan/Agar bisa membasuh (isi) dada yang kotor..."

*****
Rasanya kita butuh banyak penggembala yang ikhlas menyuarakan kebenaran. Untuk mengusap dada pemimpin negeri. Agar menjadi bersih. Agar tak lagi berlogika membicarakan kebijakan pengentasan kemiskinan di hotel berbintang. Mengkhotbahkan soal moral sambil merangkul ladies escort di kelap malam. Menyeru penghematan sambil menghamburkan uang di sudut pertokoan berkelas saat kunjungan ke luar negri. Dan berapi-api memompakan semangat kemandirian sambil melego aset dan kekayaan pertiwi melalui makelar penjualan BUMN di Singapore. Meneriakkan pemberantasan korupsi sambil menyembunyikan Besan dan kawan se-Partainya di kantong kekuasaan.Dan Menunjuk hidung bawahan yang mengantuk saat berpidato karena dianggap abai dengan kata-katanya, tetapi menyumpal kuping sendiri dengan earphone saat teriakan rakyatnya yang lapar, dan lolongan kepedihan korban pekerja ter-PHK mulai mendekati istana kekuasaanya. Duh..

*****



Read more

09 April 2012

Seperti Tiupan Kecil Pada Awalnya. Namun Bisa Menjadi Badai di Penghujungnya.

118 comments

Adalah Fulanah. Pulang. Menuju surau kecil. Berharap bertemu Seseorang. Seseorang yang pernah mengajarinya tentang pekerti, keyakinan, dan kebaikan, jauh sebelum ia merantau ke kota besar. Untuk apa? Untuk mengadukan semua kegelisahannya. Termasuk rasa bersalahnya yang terus menghantui belakangan.

Dia berharap. Ada rumus baru. Atau wirid baru tentang cara mencegah kemarahan Tuhan. Karena doa buruk dari dua, tiga atau entah berapa orang tepatnya. Karena dia lupa jumlah orang yang pernah dizaliminya. Atau ditimpa  fitnahan olehnya, belakangan.

"Kawan, apakah Tuhan akan segera murka padanya. atau apakah Dia akan mengabulkan doa buruk orang-orang yang saya nistakan beberapa waktu lalu?"

Sang Kawan, diam. Tak menjawab. Hanya memberi isyarat agar Fulanah mengikuti langkahnya.

Mereka menuju gudang kecil yang terbuat dari bambu. Lantas Seseorang berkata: "Ambilah sekarung kapas di sudut gudang. Bawa secukupnya, semampu kamu mengangkat."
" Kemudian naiklah ke bukit itu. Sesampai engkau di puncaknya, mengahdaplah ke kiblat. "
" Lalu, ambil sejumput demi sejumput kapas. Tiupkanlah ke udara. Dan ikutilah setiap tiupan tersebut dengan bacaan istighfar. Bacaan penyesalan. Begitu seterusnya...."

" Jangan kembali ke surau untuk menemuiku. Kecuali kapas di karungmu telah habis. Dan tenggorokanmu kering karena ucapan penyesalanmu. Semoga, Allah mengampunimu, dan doa buruk karibmu yang kamu khawatiri itu tak dikabulkanNya"

*****
Matahari telah condong ke barat melewati kepalanya. Kapas di dalam karung telah habis. Mulutnya lelah. Nyaris kering tenggorokannya. Karena beberapa jam terus berkomat-kamit.Tak berhenti. Menggumam penyesalan. Melafadzkan istighfar.

*****
Namun sekarang rasa sesak di dada tak seberat sebelumnya. Dengan bergegas dia kembali ke surau. Menemui karibnya, Seseorang.

*****
 " Kawan, apatah sekarang Tuhan  telah menolak doa buruk orang-orang yang telah aku asasinasi namanya. Atau doa penyesalanku telah dikabulkanNya ? Akankah Tuhan juga memaafkan kesalahanku, setelah apa yang kulakukan selama ini? "

*****
Karibnya, tak menjawab. Hanya menatapnya tajam. Lama.

*****
 Lalu pelan tapi dengan suara bertutut tetapi bertenaga dia berkata: : "Fulanah. Aku tak tahu apakah Allah akan mengampunimu. Karena itu rahasiaNya. Tapi, setahuku Dia sangat Maha Mengampuni. "

"Tapi aku tak pernah tahu apakah doa orang-orang yang kamu potong-potong hatinya. Doa orang-orang yang telah kamu tusuk jantungnya dan kamu lalimi tanpa sebab, itu akan dikabulkanNya atau tidak. Karena setahuku Allah juga Maha Mengabulkan Doa"

"Karena itu, hanya ada satu cara. Untuk mencegah agar orang-orang yang kamu khawatiri berdoa buruk untukmu itu tak menyebabkan Tuhan mengadzabmu."

Fulan memotong pelan : "Cara apakah itu, Kawan?"

"Aku tahu, awal kesalahanmu hanyalah sekedar melepas kata-kata yang tak pernah kau ketahui kebenaranannya. Melepas kata-kata yang berujung seperti tajamnya pisau yang menusuk jantung hati karibmu”.

" Pergilah. Menuju bukit tadi lagi. Kumpulkan setiap kapas yang kamu tiup. Masukkan kembali ke dalam karung yang tadi kamu pakai. Jika kapas itu penuh seperti sedia kala. Aku pastikan Karibmu akan memaafkanmu...." , lanjut karibnya.

Fulanah diam. Seperti ditelanjangi. Rasa sesak didadanya yang tadi mulai ringan,
kini memberatinya lagi.

Dia mengerti makna kalimat perintah sang salik. Dia mulai mengerti. Bahwa kata-kata yang dilepaskannya tak akan pernah mampu dikontrol pergerakannya. Seperti sebuah tiupan kecil pada awalnya. Namun bisa menjadi badai di penghujungnya.

Kini Fulanah melangkah. Menuju bukit. Untuk mengumpulkan kapas yang ditiupnya siang tadi.

Tapi kali ini tidak dengan keyakinan baru. Melainkan dengan kepasrahan baru. Sikap yang belum pernah menghampirinya semenjak dia merantau. Dia tahu. Bahwa satu-satunya jalan untuk membebaskannya dari doa buruk orang-orang yang telah disakiti dan nistakannya adalah dengan cara menjumputi kembali perkataannya yang telah menyebar kepada satu persatu orang. Tak boleh terlewatkan: harus dijumputi semuanya. Tak boleh ada huruf dan tanda baca yang tersisa.

Seperti kapas yang ditiupnya di atas bukit siang itu, Kata-kata itu sekarang harus dijumputinya. Satu persatu. Untuk dikembalikannya ke dalam mulutnya.

Sesuatu yang tak mungkin. Seperti kapas yang telah ditiupkannya di atas bukit siang itu, yang telah bergerak melintasi banyak pohon. Banyak tempat. Membelah diri. Seperti amuba.  Hidup. Bergerak terus. Ke seluruh arah. Tak lagi bisa dilacaknya.

Ditulis ulang 3112012
Read more

12 March 2012

Jawa, Ken Arok, Majapahit, Dan Poitik Penghalalan Segala Cara

148 comments
Jawa , merupakan sumber penggalian filsafat adalah keniscayaan. Namun kadang Jawa sekaligus sumber paradoks itu sendiri. Itu hal yang bisa saya kutip selama mengikuti kegiatan 'pencarian kembali budaya Jawa' selama tiga hari dua malam di arena Kampung Seni Lerep Semarang, beberapa tahun lalu.

*****
Beruntung saya diberi banyak kebebasan mengelaborasi acaraoleh kawan yang menjadi host acara tersebut. Lebih beruntung lagi karena dalam acara yang serba jawa tersebut - tidak hanya sekedar menapresiasi sastra dan seni Jawa klasik semacam tari, wayang, atau karawitan. Tetapi juga berisi film indie, bedah novel berbahasa jawa dan karya seni kontemporer lainnya- saya diperbolehkan mengajukan perlunya 'mengamandemen' kemesra'an antara wangsit dan dunia kekuasaan di tanah jawa.

*****

Sekedar tahu, Soekarno perlu memproklamirkan diri sebagai keturunan Jaka Tingkir untuk memperkuat wibawanya di kalangan bangsawan jawa waktu itu. Soeharto merasa penting untuk menyetarakan diri sebagai penerima wahyu kekuasaan (pulung:jawa). Ritusnya dimulai saat dia masih jauh sebelum menjadi Komandan Pasukan Tjadangan (yang berubah menjadi Kostrad) di daerah sekitar Gunung Pati. Tepatnya, di Sungai Kaligarang, Gunungpati. Belakangan, Suharto membangun Tugu Suharto untuk mengingatkan proses mistifikasi kekuasaannya di tepian sungai tersebut.

Setelah itu berturut-turut Gus Dur, Mega, dan SBY mengikuti jejak pendahulunya. Meski dibantah berkali-kali, namun fakta bahwa SBY, presiden yang peraih gelar doktor bidang Pertanian di IPB tesebut, memerlukan upacara pengambilan sumber mata air dari 7 tempat yang dikeramatkan di tanah Jawa untuk memulai pencalonannya menjadi Presiden. Serta memilih hari pasaran (kalender jawa) disetiap mengambil keputusan pentingnya.

*****

Pertanyaannya adalah, mengapa di jaman posmo seperti ini para pemimpin nasional memerlukan mistifikasi? Tidak mudah menjawabnya. Karena memerlukan ketekunan akademis untuk merunut penggunaan mistifikasi kekuasaan tersebut.

Namun, kutipan seorang jurnalis senior yang sekaligus pengajar sastra Jawa di Unnes berikut barangkali bisa membantu kita untuk menemukan alasannya. Yaitu: "untuk mengembalikan lagi wibawa kekuasaan yang mulai runtuh dihadapan sebagian besar rakyatnya".

*****

Saya jadi teringat pembicaraan terakhir saya dengan mendiang Pramoedya Ananta Tour beberapa bulan selepas dibebaskan dari Nusakambangan. Dengan ditemani sang istri, Muthmainnah dan seorang pegiat Kepal PRD asal UGM, di ruang tamunya yang kecil dibilangan komplek kejaksaan jakarta.

" Sejarah politik Indonesia tak akan terlepas dari sejarah Majapahit dan Tanah Jawa. Yaitu sejarah aneksasi dan baku bunuhuntuk perluasan wewenang kekuasaan. Pra Majapahit pun, Jaman Singasari, menjelaskan semua teori itu. Kekuasaan membolehkan perselingkuhan bahkan baku bunuh saudara sendiri. Ken Dedes, istri bupati Tumapel (kediri saat ini) Tunggul Ametung diselingkuhi Ken Arok. Sebelum tragedi pembunuhan dilakukan. Majapahit juga begitu. Sebab, kekuasaan merupakan puncak pencarian jati diri bagi orang Jawa".

"Itulah kenapa menumbalkan rakyat banyak adalah (seperti) kenicayaan dalam sejarah politik Indonesia", celetuk saya. ""Itulah jawa dan itulah indonesia" jawab Pram sambil mengepulkan rokok dan sesekali membetulkan alat bantu pendengaran yang kurang pas.

*****

Mengingat perkataan Pram diatas, membuat saya ingin mengingat (kembali) peristiwa berdarah yang menyertai proses alih kekuasaan terakhir, mulai kasus santet Banyuwangi, kasus Ambon, Kasus Maluku Utara yang diikuti kasus Poso. Terus kasus konflik horisontal Sampit, Bom Bali, Bom JW Mariot, Bali jilid II dst. Ya rentetan peristiwa yang setelah saya tarik surut kebelakang, ternyata lebih sering dipicui oleh peralihan pimpinan partai, pemilukada, dan peralihan kekuasaan nasional.

Namun, belum lagi saya berhasil mengingat dan mencatat kembali peristiwa kerusuhan yang memakan korban nyawa tak sedikit tersebut. Terdengar beberapa stasiun telivisi nasional mengeluarkan breaking news-nya: Kerusuhan antar suku di Tarakan meledak, Kerusuhan antar preman di PN Jaksel menyusul kemudian, dan sehari berikutnya kerusuhan laten antara masyarakat dengan penganut Ahmadiyah meledak lagi.

*****

Saya tak yakin, kerusuhan akan segera berhenti di republik ini dalam waktu dekat. Karena saya masih melihat arus besar yang sama di layar sosial kita. Arus tersebut adalah adagium "bahwa kekuasaan akan selalu memerlukan korban gelimang darah rakyat tak bersalah."

Seorang karib lain yang menjelaskan dengan teori perilaku politik dengan pendekatan yang relatif lebih sederhana. Bahwa kerusuhan demi kerusuhan yang belakangan terjadi lebih disebabkan karena sebagian petinggi politik kita masih "menjadikan politik sebagai panglima" dalam meraih kekuasaan. "Jadi, selama ideologi yang bertengger di otak pelaku politik adalah kekuasaan sebagai panglima, maka selama itu pula kita tak bisa berharap kerusuhan akan segera berakhir di republik kita"

*****


Read more

11 March 2012

Benarkah Eko Tunas Seorang Seniman ?

0 comments
knownledge dan sekedar menjadi find away to life, sebagaimana paradigma akademis dari Barat, meminjam istilah Amir Yasraf Piliang untuk menjawab pertanyaan itu maka saya pastikan, kita akan kesulitan untuk memahami dan mencari tahu posisi Eko Tunas dalam kesenian.

Mengapa? Karena, Eko Tunas lebih memandang seni sebagai essence of art . Sebagai manivesto kehidupan. Dan memfungsikannya untuk tujuan find away to make a living dan bukan sekedar alat untuk find away to live. Atau dengan kalimat yang lebih tegas, Eko Tunas mengambil esensi seni sebagai manivestasi kehidupan. Karena kehidupan adalah seni itu sendiri.

*****

Itulah sebabnya bukan hanya puisi, cuman cerpen, sekedar esai atau mung lukisan yang dihasilkan. Semua diciptakan. Sekaligus. Puisi, cerpen, esai, monolog, berteater, naskah drama, tata-panggung, lukisan, pamflet, film dan syair musik, semua digarapnya.Bukan lantaran ingin mengejar sebutan sebagai seniman serba bisa. Namun, lebih disebabkan karena karena alasan manivesto kehidupannya tak mungkin hanya diwakili oleh satu ‘instrumen’ saja.

Dia perlu menggunakan semua 'instrumen' seni tersebut untuk meresonansikan 'suara dalam kepala', atau untuk menarasikan 'diktum keyakinan'. Sebuah cara bermanivesto yang mirip dengan cara Raddin Abbas -Priyayi asal Residensi Kediri- yang belakangan dikenal sebagai Kyai Sadrach dan Ngabdollah atau Kyai Tunggul Wulung dalam sejarah keKristenan di Jawa pada pertengahan dan awal abad ke-18. Dan cara berkesenian yang mendekati cara Raden Said yang kemudian dikenali sebagai Sunan Kalijaga. Tokoh yang perjalanan spiritual dan thariqah tasawufnya sering dituturkan Eko Tunas di Suraukami.

*****

Kini, saya melihat bayangan anak priyayi kelahiran Tegal 18 Juli 1956 itu bergerak. Bekesenian. Berjalan dari kampung ke kampung tanpa lelah. Dengan cara bergerak yang masih seperti jaman mudanya. Kali ini pergerakan manusia paro baya yang bermadzhab ma'rifah, berwushul mahabbah dan berharakah ghiffariyah itu semakin kontstan.

*****

Seperti pergerakan seorang tokoh yang diceritakan Gunawan 'Puthu' Budi Susanto kepada saya. Tentang seorang tukang sapu di pinggir jalan yang sehari-harinya hanya menyapu guguran daun yang dijatuhkan oleh setiap pohon yang dirawatnya sejak muda. Sejauh apa pun daun kering yang dijatuhkan pohon-pohon peliharaannya itu ditiup angin. Sejauh itu pula dia menyapu.

Selalu menyapu setiap hari. Selama tujuh hari dalam seminggu. Tigapuluhan hari dalam sebulan. Dan sebanyak tigaratusan hari lebih dalam setahun. Tanpa jeda. Tanpa merasa lelah. Tanpa peduli panas hujan. Loyal pada pekerjaannya. Tanpa berharap upah dari pemerintah. Tulus. Bermakna mendalam. Karena menyapu, dan mengejar kemana sampah yang dijatuhkan pohon peliharaannya adalah bagian dari cara pengabdiannya pada Sang Maha Pemberi Kehidupan.

Jadi, masihkah perlu untuk mencari jawaban apakah Eko Tunas seorang Seniman atau bukan? Seorang Budayawan atau bukan?

Saya khawatir, kalau kita memaksakan diri untuk mencari jawaban, yang kita temukan justru mengarah pada kesimpulan lain. Bahwa Eko Tunas adalah seorang pegiat tasawuf, alias sufi. Atau bahkan jika disimulasikan, jangan-jangan jawaban yang paling kerap muncul adalah ini: Eko Tunas adalah seorang Kyai yang pesantrennya seluas kota yang pernah disinggahinya. Wallahu a'lam.

*****

Akhirnya, selamat bertasawuf dengan cara meng-iqro'-i kumpulan 'suara dalam kepala' dan 'teriakan hati-nurani' sekaligus 'diktum pemikiran' Eko Tunas yang terkumpul dalam Antologi Puisi Ponsel Di Atas Sprai kali ini. Semoga bahan tasawuf dari Eko Tunas berikutnya bisa segera dihadirkan. Nuwun.

*Ditulis Sebagai Pengantar Ulang Tahun Eko Tunas Ke-55, dan Sebagai official Prolog Suraukami untuk Antologi Puisi Ponsel Di Atas Sprai Eko Tunas
Read more

11 December 2011

Menggarami Laut

96 comments
Dia seorang diri di atas perahu kecil di tengah laut. Mulutnya terus menggumamkan istighfar dan tangannya menggenggam butiran garam dapur. Setiap satu ucapan, satu butir garam dia lempar ke laut. Hampir tiga hari tiga malam selalu begitu. Tenggorokannya mengering dan garam dalam gantangan mulai menipis. Dia abai pada sengatan terik, atau guyuran hujan yang menggigilkan tubuhnya. Satu, ya cuma satu, yang dia harapkan: Tuhan jadi iba, lalu mengampuni segala kesalahan yang telah dia buat.

Tiga hari sebelumnya, dia bertanya pada seorang kawan mengaji di masa kecil. Apakah Tuhan akan memaafkan dirinya? Temannya hanya diam sambil memberi isyarat agar mengikuti langkahnya. Berdua lalu mereka menuju tepian muara sungai, dan sang teman berkata, ''Bawalah segantang garam ini, dan naiklah ke perahu kecil itu. Sesampai engkau di tengah lautan, menghadaplah ke kiblat. Lalu, ambil sebutir demi sebutir garam dan lemparkan ke lautan. Ikutilah setiap lemparanmu dengan bacaan Istighfar."

"Begitu seterusnya. Jangan kembali ke surau untuk menemuiku, kecuali garam dalam gantang itu habis tak bersisa. Dan tenggorokanmu kering karena ucapan istighfarmu. Semoga Allah mengampunimu, memaafkanmu.''

Dia tak membantah meskipun tahu ini bukan cara beristighfar yang lazim. Tapi dia berpikir, mungkin ini satu-satunya tawassul terbaik untuk mengiba permaafan dari-Nya.

Saat matahari tepat di atas kepalanya, gantangan garam itu telah kosong. Tenggorokannya benar-benar kering. Namun, rasa sesak di dada tak seberat sebelumnya. Segera dia menepikan sampan ke muara sungai, dan bersigegas ke surau menemui sang teman.

''Kang, setelah apa yang kulakukan, apatah kiranya Tuhan mengampuni kesalahanku?''

Sang teman cuma menatap dirinya tajam. Cara menatap yang membuat pikirannya mengembara. Benarkah Dia yang Mahapemaaf itu tak lagi mengampuninya?

''Mungkin saja.''Begitu jawaban yang keluar dari mulutnya sendiri.

Dia berharap begitu. Sebab dia tahu, telah lama Tuhan dia tipu: alim di setiap tampilan dalam layar televisi; bijak di atas podium seminar; religius di forum kampanye; berbusa-busa menderaskan ayat suci di ruang publik.

*****

Ya. Sangat lama dia tak menjalankan lima waktunya. Jadwalnya dipenuhi kencan bisnis dan patgulipat politik. sangat lama pula, kebiasaan gelengan kepala karena transeden dalam zikir di tempat yang hening dia ubah menjadi gelengan ekstase di tengah gemerlap lampu tempat hiburan malam.

Zakatnya tak lagi disalurkan di rumah yatim-piatu tapi dia transfer ke rekening para penjual massa di beberapa rumah mobilisasi suara. Kadang disalurkan pada rumah tinggal para molek simpanan di apartemen-apartemen tersembunyi. Sa'i-nya tak melewati rute perjalanan Siti Hajar saat mencari air minum untuk Ismail kecil seperti saat berhaji. Dia lebih banyak bersa'i di bentangan padang rumput hijau sambil ditemani para caddy yang gemulai manja. Ya. Di tempat-tempat seperti itulah dia melakukan semua politicotainment. Di tempat seperti itu pula rupiah dan dolar tanpa nomor seri mengalir deras di bawah meja.

*****

''KAWAN, lihatlah sekelilingmu. Lihatlah dengan mata hati. Bukan dengan mata statistika. Bukan dengan hitungan rating pesona yang mengakibatkan perolehan suara partaimu melejit tajam,''

''Tengoklah gang-gang kumuh. Datangi rumah-rumah tiap pengikutmu. Kunjungi emperan-emperan toko yang masih menjadi tempat tinggal abadi mayoritas rakyatmu. Sesekali berhentilah di lampu merah dan tengoklah pengamen anak-anak dan pengemis yang semakin banyak.''

Dia masih diam, membiarkan sang teman terus berbicara.''Mungkin Tuhan telah memaafkanmu, dengan sebaik-baik permaafan. Namun, tahukah engkau, hanya orang bodoh yang berusaha keras menggarami lautan? Hanya orang tak berakal yang mencoba menebar garam di pusat garam itu dibuat?

Itulah dirimu. Dirimu lima tahun lalu. Kamu mengira telah melakukan hal besar. Sebab, surat keputusan dan kebijakan yang lahir dari tanganmu seolah telah membuka pelurusan hukum, menaikkan angka kepercayaan investasi, mencuatkan pendapatan per kapita, meninggikan angka kemakmuran, menolong orang miskin dengan bantuan uang kaget alias BLT ala reality show. meninabobokan keresahan rakyatmu dengan politik salon''

Sang teman terus berbicara." Kamu bersusah payah melakukan sesuatu yang kamu anggap besar. Tapi sebenarnya kesia-sian. Selalu merasa telah berbuat banyak. Padahal hanya menggarami lautan. Itulah dirimu. Dirimu di lima tahun kedua kekuasaanmu".

Tengoklah tokoh idolamu di masa kecil. Umar bin Khatab yang hampir tiap malam dihabiskan untuk meronda tiap gang di wilayah negara, sendirian. Dia perlu tahu, apakah ada warganya yang masih merasakan ketidakadilan dan kemelaratan. Bahkan dia sendiri yang akan memanggul gandum atau kurma untuk diserahkan kepada warganya yang luput dari kesejahteraan.

Khalifah yang bila sudah selesai menjalankan tugas kenegaraannya, segera mengganti lampu penerangan, alat transportasi dan menanggalkan semua fasilitas negara, dengan peralatan hidup pribadi yang sederhana. Karena, menurutnya setelah melaksanakan tugas kenegaraan, dirinya hanya warga biasa seperti kamu semua.''

Dia masih terus bergeming mendengarkan sesorah sang teman mengajinya di surau kecilnya dahulu.''Kawan, mungkin Tuhan memaafkanmu meski setiap hari engkau menipu-Nya berkali-kali. Namun, puluhan ataupun hampir ratusan juta orang yang kamu tipu, mereka tak akan pernah memaafkanmu. Sekarang atau nanti. "

"Kalau sekarang mereka diam, mungkin mereka hanya menunggu waktu. Kalau sampai waktunya, mungkin kau akan terjebak dalam lakon film-film gangster ala Godfather. Kerabatmu akan memaki dan wibawamu akan tandas. Ya, saat itulah mereka akan menghukummu.''

Dia masih diam, tetapi sekarang dia tahu apa yang telah dia lakukan di atas perahu kecil di tengah laut itu semata kesia-siaan. Laut tak butuh digarami. Dia juga sangat tahu, Tuhan memang Mahapemaaf, tapi puluhan bahkan ratusan atau jutaan orang yang telah dia tipu melalui politik kejaiman sekian lama tersebut tak akan gampang untuk mengucapkan, ''Kumaafkan kamu.''

****

Ditulis Ulang disebuah Surau Kecil Pinggiran Semarang



Read more

11 November 2011

Walmiki, Rahuvana Tattwa, Shinta, Rama, dan Political Branding

90 comments
Saya sangat tergoda dengan tema besar dalam Novel Rahuvana Tattwa, yang seolah langsung menodong Walmiki dengan pertanyaan sejak awal halaman : "Benarkah Rama adalah seorang ksatria ? Kalau jawabannya ya, maka kenapa Rama membunuh Subali yang menjadi musuhnya dari belakang? (selayaknya perilaku tokoh licik saja).

Kenapa Rama (juga) menghukum buang Shinta ke hutan. Bahkan tetap dingin saja. Hati bagai batu, ketika Shinta yang sedang dalam kondisi kebatinan yang carut-marut, melakukan tindakan 'bunuh diri' dengan cara membiarkan tubuh kekasihnya itu ambles ditelan bumi (Hanya untuk membuktikan bahwa dirinya tak pernah selingkuh?")

Dan sebaliknya. Benarkah Rahwana yang menjadi lawan Rama adalah demon atau raksasa yang haus darah, keji, amoral, anarkhis dan licik? Padahal pada saat yang sama Walmiki -sang penulis buku Ramayana- mengakui bahwa kerajaan Rahwana adalah kerajaan yang tapal batas negaranya berbenteng tembok tinggi. Memiliki pemerintahan yang teratur dan memiliki tata kota yang rapi jali? Bahkan seluruh rakyatnya sangat mencintainya dan rela berkorban sampai titik darah penghabisan untuk membela raja yang dicintainya itu?

Apa yang dilakukan Walmiki dalam menggiring emosi kita agar memihak kepada Rama, sebenarnya sebangun dengan cara Columbus bercerita tentang heroisme armadanya saat ‘memerangi Indian yang barbar’. Atau cara Cook menuliskan ‘perang peradaban’ saat menghadapi ‘Aborigin yang primitif, haus darah dan anarkhis’.

*****

Penaklukan suku asli, melalui perang yang tak berimbang antara Rama dan Rahwana. Atau antara Colombus dan Indian, serta Cook dengan Aborigin bukanlah sesuatu yang salah. Apalagi dosa besar. Begitu kira-kira mindset yang hendak ditanamkan dalam pikiran kita. Sehingga yang nampak dalam ingatan kita hanyalah sebuah tagline besar: Si Rupawan Rama, Si Penemu Benua Amerika Colombus dan Si Pembebas Australia Cook adalah tokoh ‘si baik’ yang berturut-turut sedang memberantas kejahatan, keterbelakangan dan primitifisme. Jadi sah-sah saja bila dalam perjuangannya ‘si baik’ menghalalkan semua cara yang sejatinya kita haramkan, seperti:i merampas dan membakar rumah penduduk asli, memperjual-belikan tawanan, bahkan sangat sah pula bila tokoh kita tersebut melakukan genosida sekalipun.

*****

Sementara Rahwana yang sangat dicintai pengikutnya. Tahu etika diplomasi, karenanya tak sekalipun pernah menyentuh Shinta -walau hanya sekedar sentuhan tangan- padahal Shinta adalah tawanan perangnya. Bahkan sebaliknya, Rahwana menempatkan Sintha dalam tamansari, bukan kerangkeng penjara. Bandingkan dengan sikap Rama yang malah membuang Shinta ke hutan dan membiarkannya bunuh diri.

Lalu mengapa Rahwana justru digambarkan sebagai monster. Demikian juga dengan Indian Inka dan Aborigin. Para pemimpin suku bangsa yang hidup mengakar rumput. Selalu menjaga kelestarian ekosistem dan hidup harmoni justru kita cap sebagai ‘si buruk’ yang barbar .

Mengapa semua kejahatan yang dilakukan oleh ‘si baik’ kita anggap absah? Dan semua kebaikan yang dilakukan ‘ si buruk’ tak membuat kita adil bersikap? Karena tokoh ‘si baik’ telah menyihir kita dengan political branding alias politik jual citra. Sehingga kita ikhlas untuk menutup rapat akal sehat dan daya kritis kita.

*****

Kini, dengan mesin political branding yang sama, pemerintah mencoba menjadi tokoh ‘si baik’. Jika pikiran kritis yang kita miliki tak segera kita hidupkan. Maka bailout yang mengakibatkan negara kehilangan 6,7 triliun dalam Centurygate. Kasus Dana pemenangan pemilu partai penguasa. Kasus manipulasi dan penggerusan Uang Negara di beberapa departemen oleh Bendaharawan Partai Demokrat dan banyak lagi tersebut kita anggap bukan tindakan kriminal . Kongkalikong untuk membangun ‘hotel bintang lima’ di penjara adalah wajar. Keputusan membiarkan UMKM nasional terlantar di pasar bebas asia adalah keniscayaan. Dan perilaku bermewah-mewah dengan mobil dinas baru serta pesawat kepresidenan pribadi saat banyak musibah menimpa negeri adalah kemodernan.

*****

Oleh karena itu, politik pengalihan issue, alias menutup isu substansi berupa dekonstruksi kekuatan KPK dengan issue murahan, harus tetap dicermati. Agar KPK segera dapat menyeret siapapun yang terlibat dalam kongkalikong pembangkrutan secara negeri ini secara sistemik.

Karenanya, sekali lagi. Jangan berhenti bersikap kritis. Sebab bersikap kritis dan ‘beroposisi’ bukan berarti kita membela ‘si buruk’. Siapapun pelaku kejahatan, meskipun yang melakukan kejahatan tersebut adalah ‘si baik’ tetaplah sebuah kejahatan.

Kita sudah jenuh dengan politik jualan citra dalam political branding ala sinetron. Jangan mau lagi menjadi pengikut politik pejah-gesang. Pejah – gesang, mbelani ‘si baik’ dan memusuhi ‘si buruk’ tanpa reserve. Masak, kita mbelani rezim yang berbuat salah secara mati-matian layaknya ‘tokoh si baik’ dalam sinetron. Emangnya kita hidup di negara Sinetronesia dimana tetesan keringat dan cucuran darah pejuang kemerdekaan hanya adegan filem sahaja ?!

*****

ditulis Ulang di Rejondani, Sleman Yogyakarta


Read more

26 October 2011

Catatan Satu Suro 1945 Wawu, Satu Muharam 1433 H: Seandainya Bersama Kita Bisa

21 comments
Ibunya Hantamah binti Hasyim bin Al-Mughirah. Ayahnya seorang tokoh lokal bernama Nufail Al Mahzumi. Pertumbuhan fisiknya kukuh kekar. Kerap memenangi perkelaihan di masa mudanya. Penyelamat kabilah jika terjadi perang antar suku. Namun saya kira bukan alasan tersebut yang membuatnya dianggap sebagai pengganti Hamzah bin Abdul Muththalib dalam pemberian perlindungan kepada sang Nabi di saat masa sulit.

*****

Menurut banyak catatan sejarah. Dia termasuk pengikut sang Nabi yang terbebas dari boikot ekonomi dan hukuman sosial. Sanksi yang diterapkan petinggi Mekkah terhadap pengikut gerakan Muhammad. Dokumen sejarah lain, malah mencatat dia sebagai satu-satunya peserta rombongan yang mengumumkan secara resmi keikutsertaannya untuk eksodus , justru pada saat eksodus itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari penghadangan. "Jika diantara kalian ada yang ingin anaknya menjadi piatu,dan istrinya menjadi janda, silakan halangi (perjalanan) saya", begitu yang dikatakannya kala itu. Di depan para petinggi Mekkah yang hendak menghadangnya.

*****

Sekaku itukah sikapnya? Benar ! Dia memang sangat kaku dan tegas terhadap kelompok orang yang menjunjung tinggi ketidak-adilan sosial. Bahkan cenderung ketus bila berhadapan dengan penggila kekuasaan dan penindas kaum pinggiran. Namun. Dia juga sangat lembut, bahkan acap menangis sendirian bila mendengar kabar ada dua atau satu saja -dari sekian banyak rakyatnya- masih miskin atau terpinggirkan secara struktural, atau karena jangkauan pemerintahannya gagal mendistribusikan kemakmuran.

Dialah Khalifah, Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan kedua yang hampir tiap malam waktunya dihabiskan untuk meronda tiap sudut gang di wilayah negara sendirian. Untuk menyelidiki apakah ada warga yang masih kelaparan atau masih melarat. Bahkan dia sendiri yang akan memikul sembako seperti gandum atau kurma untuk diserahkan kepada mereka.

Dialah orang dekat Nabi Muhammad yang bila sudah selesai menjalankan tugas kenegaraannya. Segera mengganti lampu penerangan, alat transportasi dan menanggalkan semua fasilitas negara. Dengan peralatan hidup pribadi yang sederhana. "Karena setelah melaksanakan tugas kenegaraan. Saya adalah warga biasa seperti kamu sekalian". Begitu keseharian kehidupannya saat menjadi Kepala Negara.

Dialah tokoh yang untuk penegakan hukum di dalam negeri. Tokoh yang tak segan-segan melakukan eksekusi sendiri pelaku korupsi dan pencurian hak sipil warganya. Tokoh dengan kebijakan luar negeri yang tak segan menantang perang secara terbuka negara adikuasa saat itu, Romawi. Karena sikap penindasan negara adikuasa tersebut terhadap negara-negara kecil yang menjadi jajahan atau wilayah protektoratnya. Karenanya, tak terlalu mengherankan jika Michael H. Hart pun terpaksa mengakuinya sebagai orang paling berpengaruh dalam The 100-nya.

Ya. Dialah Ummar bin Khattab. Orang yang menyerap nilai eksodus dengan serapan subtstantif. Dan dia pula yang selalu menyampaikan pentingnya nilai eksodus. Juga pentingnya substansi eksodus itu sendiri bagi generasi berikutnya. Karena itu pula, maka dia merasa perlu untuk menetapkan peristiwa monumental yang menempuh jarak 470 km tersebut sebagai dimulainya penghitungan Kalender Islam. Peristiwa yang belakangan dikenal sebagai peristiwa Hijrah.

Untuk apa semua itu dilakukannya? Agar generasi berikutnya selalu mengingat nilai penting peristiwa tersebut lebih dalam. Lebih substantif: Hijrah dari sikap cuek bebek terhadap terjadinya ketidak-adilan sosial. Dari sikap hedonisme. Dari sikap menjadikan kekuasaan, gelimang harta dan kemewahan jabatan politik sebagai tujuan hidup menuju keberpihakan kepada kelompok jelata. Pembelaan terhadap pihak tertindas. Dan kekuasaan politik untuk menyejahterakan rakyat.

Akhirnya, selamat menjadikan momentum tahun 1433 Hijriyah. Selamat menyerap makna Hijrah dengan serapan yang lebih substantif: Mari kita paksa siapapun yang memegang amanah kekuasaan di negeri ini untuk mereformasi perilaku. Agar kegemilangan negeri yang mereka janjikan semasa putaran kampanye kemarin bukan sekedar jualan mimpi di siang bolong belaka !

Read more

02 October 2011

Keindonesiaan WNI Keturunan, Ketupat, Cap Gomek, Kauman, Mudik Iedul Fitri dan Laksamana Cheng Ho

60 comments
Adakah keterkaitan antara Lebaran, Mudik, Cap Gomek, Kebab,Kampung Arab, Kauman, Masjid Cheng Ho dengan Keindonesiaan WNI Keturunan?

Jawabanya bisa bermacam-macam. Yang Jelas,sejarah kita mencatat,ada nama dengan pengejaan Tionghoa yang dianggap sangat besar jasanya di abad ke-15,yakni: Cheng Ho.

Karenanya, tokoh yang (juga) dikenal dengan Laksamana Zheng He. Bergelar Sam Poo Yay Djien tersebut diabadikan sebagai nama dua buah Masjid di ibu kota propinsi: di kota Surabaya bernama Masjid Muhammad Cheng Ho dan di Palembang dinamai Masjid al Islam Muhammad Cheng Ho. Dan sebuah masjid yang dikelola sebuah Pemda Pasuruan (juga) dengan nama Masjid Muhammad Cheng Ho.


Begitu besar peranannya bagi dunia perdagangan, proses asimilasi bangsa dan sekaligus bagi sejarah Islam di indonesia. Tak heran bila National Geographic Magazine di tahun 2005 mencoba merekonstrukasi perjalananya. Jejak perjalanan yang dimulai dari Yunnan (RRC) sampai Swahili (Afrika) tersebut di pamerkan dalam sebuah Pameran Foto di Universitas (Kristen) Petra Surabaya. Dan (masih pada tahun yang sama) di Semarang, di diselenggarakan Seminar Nasional Membincang Kontribusi Tionghoa dalam Proses Islamisasi di Indonesia untuk memperingati kedatangan 600 tahun Cheng Ho alias Sam Poo Kong di Semarang medio 2005.

*****
Ada banyak jejak peninggalan Cheng Ho di Nusantara. Adanya Lonceng Raksasa Cakra Donya di Aceh. Piring Ayat Kursi di Cirebon. Ukiran Padas di Masjid Kuno Mantingan, Jepara. Menara Masjid di Pecinan Banten (Jawa Barat). Konstruksi serta Ukiran Pintu Makam Sunan Giri di Gresik (Jawa Timur). Arsitektur Keraton dan Taman Sunyaragi di Cirebon (Jawa Barat). Konstruksi Soko Tatal dan ukiran kura-kura pada Masjid Demak (Jawa Tengah). Konstruksi Masjid Sekayu di Semarang. Kesemuanya merupakan jejak tentang adanya pengaruh misi damai Islam dan perdagangan internasionalnya di ranah Nusantara.

Bahkan di tempat persinggahannya di pelabuhan Semarang Tempo Dulu, Simongan. Cheng Ho diyakini sempat membangun tempat Pasholatan atau musholla yang berbentuk Lorong Goa. (Sayang setelah restorasi situs rersebut tertutupi bangunan baru yang berupa Klenteng Sam Poo Kong. Silakan baca juga wawancara singkat saya dengan pengelola Yayasan Klenteng Semarang dan a href="http://semarangreview.blogspot.com/2008/02/wawancarasaya-ketua-yayasannya-saya.html">Yayasan Klenteng Semarang dan Jejak Cheng Ho di Semarang atau Ringkasan Sam Poo Kong di Semarang)

*****
Tapi, yang menjadi pertanyaan saya di penghujung postingan ini. Kenapa di negara kita, Indonesia. Negara yang mengaku pewaris absah dari kerajaan-kerajaan Islam, Budha, dan Hindu. Negara dengan batasan wilayah yang disebut sebagai Nusantara. Dan dibangun dengan sejarah kontribusi ke-etnis-an yang dahsyat. Masih saja ada pengucapan WNI Keturnan untuk orang berlatar belakang etnis Tionghoa (China). Tetapi tidak ada julukan WNI keturunan Arab, misalnya?

Taruhlah, karena alasan keturunan Arab dianggap berjasa terhadap ke-Islam-an mayoritas pribumi. Bukankah China (Cheng Ho dan armadanya) juga memiliki saham terhadap ke-Islam-an Indonesia sejak abad 14.

Atau dengan kata lain, Cheng Ho adalah orang yang ikut ambil bagian dalam proses pendirian Negara (Kerajaan) Islam Pertama di Tanah Jawa, yaitu Demak yang biasa disebut dengan Mataram Islam (1475). Bahkan sajarawan nasional Mukti Ali ,mengajukan teori sejarah ini sbg antitesis Islam Indonesia disebarkan melalui Gujarat seperti yang dilansir Snouck Hugronje. Demikian juga dengan Buya Hamka. Seperti yang tertuang dalam sebuah tulisan medio 8 Maret 1961 , di majalah Star Weekly (juga) mengatakan tentang peran besar Cheng Ho dalam penyebaran Islam di Indonesia . Nah Loh...


*****
Saya jadi bersyukur, karena rute perjalanan mudik saya beberapa tahun terakhir bisa menyinggahi berbagai situs hidup tentang sejarah Islam. Termasuk keanekaragaman menu masakan. Mulai Ketupat Kauman, Lontong Cap Go Mek Pecinan, Kebab Turki, dan tentu saja Nasi Kebuli-nya Kampung Arab. Sebuah fakta baru, bahwa Indonesia adalah sebuah negara dengan pondasi sejarah masa lalu yang besar dan dahsyat.

Namun, kini. Dibalik seluruh kekaguman. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di dada. Sebuah pertanyaan yang tak kalah besarnya: Kenapa kita tak mampu memanfaatkan kultur mudik, Idul Fitri atau Ied Mubarak sebagai sarana rekonsiliasi kultural. Agar kegemilangan masa depan bangsa ini segera terwujud.

Ah seandainya, Amin Rais, Gus Dur, Megawati, Prabowo, Meutia Hatta, Sutrisno Bachir, Kalla, SBY, dan Wiranto, Yusril Ihza Mahendra melihat fenomena kultural 'Idul Fitri atau Ied Mubarak ini dengan mata yang lebih jernih. Fenomena di mana per-maaf-an, rasa saling berbagi, mobilisasi dana pusat daerah, identity-maker, nilai ketakwaan dan kesalehan sosial sedang menemukan momentumnya.


Read more

29 August 2010

Ramadhan Mubarak, Proklamasi, Perang Badar dan Pembukaan UUD 1945

58 comments
Puasa, yang dalam pemahaman Jawa sering dimaknai sebagai kegiatan menahan diri dari nafsu merupakan perintah Allah yang tak pernah kering untuk dicari hikmahnya. Apalagi hanya sedikit jenis perintah yang menggunakan fi'il (kata kerja, verb) "kutiba" yang semakna dengan kata 'diwajibkan' AlLah kepada pengikut Muhammad.

Pertama, kutiba 'alaikumul qitaal yang artinya, (telah) diwajibkan bagi kalian (Nabi dan pengikutnya) untuk berperang. Sebuah perintah agar Nabi mengangkat senjata, guna melawan hegemoni suku Quraysh yang selalu menistakan penganut Islam kala itu. Perang yang dikemudian hari dikenal sebagai Perang Badar. Perang dimana jumlah sedikit tidak membuat kalangan Islam terkalahkan oleh Quraysh.

Kedua, kutiba 'alaikumul qishash yang semakna dengan telah diwajibkan untuk melaksanakan hukum qishash. Dan, ketiga, kutiba 'alaikumusysyhiam, yang bermakna (telah) diwajibkan bagi kalian (pengikut muhammad) untuk berpuasa. Sama-sama menggunakan diksi kutiba.

Ada apa dengan kesengajaan Allah dengan penggunaan diksi perintah puasa disetarakan dengan perintah perang pertama kali? dan perintah penerapan hukum qishash pertama kali pula?

Sayyid Qutub, penulis Fii dzilalil Qur'an, menyebut kesengajaan tersebut menunjukkan kesetaraan urgensitas. Atau dengan kata lain, bahwa perang Badar, perang yang diwajibkan untuk mempertahankan eksistensi ummat Muhammad ditengah hegemoni dan penistaan penguasa setempat memiliki nilai yang sebangun dan setara dengan puasa.

Karenanya, sebutan kemenangan (futuhat) yang diberikan kepada para as-sabiqunal awwalun (generasi awal pengikut Muhammad) --yang berperang dengan senjata dan milisi terbatas saat melawan Tentara Quraisy yang terlatih dan berjumlah jauh lebih banyak-- juga dipakai untuk orang yang telah berhasil mengalahkan nafsunya dalam puasa.

Sebegitu urgen perintah puasa bagi orang Islam, sampai-sampai bulan puasa atau bulan Ramadlan juga disebut sebagai syahrut tarbiyyah alias bulan pendidikan. Bulan untuk melatih kematangan jiwa. Disebut pula sebagai bulanpembentukan Syakhsiyah Islamiyah alias pembentukan jiwa yang berserah diri kepada Sang Khalik, Allah azza wa Jalla.

*****

Kedua adalah pelaksanaan bulan puasa yang dihitung berdasarkan penanggalan bulan (qomariyah) dan bukannya menggunakan penanggalan matahari (syamsyiah). Apa maknanya?. Maknanya, agar setiap orang yang berpuasa dapat merasakan bagaimana rasa lapar, dahaga, dan mengekang nafsunya di semua musim.

Kita yang di Indonesia akan pernah merasakan puasa di musim kemarau dan hujan. Penduduk negara dengan empat musim juga akan pernah merasakan puasa di musim panas, semi, salju (dingin), dan gugur.

Cukup mudah dipahami, jika sepeninggal puasa , orang yang berhasil 'mendidik dirinya sendiri menjadi manusia paripurna, mendapat sebutan fitri. Jiwanya akan seputih kertas lakmus alias kembali ke nilai asal kehidupan yang tak lagi terbebani dosa kepada AlLah dimasa lalunya.

*****

Saya jadi ingin memberitahukan. Bahwa saat proklamasi 17 Agustus 1945 dibacakan, adalah (juga) saat waktu dhuha (sekitar jam 10 pagi, wib) di pertengahan bulan puasa alias bulan Ramadlan. Atau dengan kata lain, bahwa naskah proklamasi dibuat dan dibacakan oleh orang yang sebagian besarnya sedang berpuasa, penjahit bendera yang berpuasa, pengibar bendera yang berpuasa, dan diperdengarkan kepada orang yang sebagian besarnya (juga) sedang berpuasa.

Ah. Mestinya keberkahan yang cukup banyak telah terlimpakan pada negeri ini. Namun sayang, terlalu banyak hal yang disia-siakan oleh bangsa ini. Terlalu banyak pemimpin bangsa bersama kelompok mayoritasnya telah membawa negeri ini ke arah yang semakin menjauhi janji yang dibuatnya sendiri:" untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,..."

Sebuah janji berupa maklumat yang ditulis sendiri. Dengan pena belulang dan tinta keringat serta darah orang terdahulunya. Stempelnya masih hangat. Judulnya masih ditulis dengan huruf tebal: Preambule Oendang Oendang Dasar '45... Nah !

*****

Read more

Labels