Sejak beberapa waktu silam. Ditemani kawan jurnalis. Kembali, saya memutari hampir semua Pameran Buku. Mencoba mengaduk- aduk tumpukan buku sejarah. Khususnya tentang sejarah kemerdekaan bangsa. Banyak buku. Dari berbagai penerbitan yang diperuntukkan sebagai pendamping atau buku utama pelajaran sejarah di sekolah.Namun buku sejarah tetap saja menulis seperti tahun-tahun sebelumnya. Nyaris tak ada perubahan fundamental. Selalu saja anak-anak SMP dan SMA kita disuapi dengan narasi sejarah, bahwa hanya ada dua nama besar. Figur sentral: Yaitu dua orang pembaca naskah proklamasi Sukarno-Hatta sebagai figur utama. Sedang tokoh lainnya, hanya ditempatkan sebagai pemain figuran dalam sejarah kemerdekaan.
Padahal semua orang mengetahui, bahwa ada puluhan tokoh utama sekaligus yang tergabung dalam BPUPKI, atau tokoh lainnyaseperti Sudirman, Tan Malaka, M Natsir, Bung Tomo (Surabaya), Supriadi (Blitar), Haji Mohammad Thoha (Tasikmalaya), Otto Iskandar Dinata (Bandung), Daud Beureuh (Aceh), Maridjan Kartosuwiryo ( Siliwangi, Pasundan), Amir Syarifudin, Syafrudin Prawiranegara (Sumatera), Haji Tirta (Betawi), Mgr sugiyopranoto, yang sangat layak untuk ditampilkan sebagai tokoh utama kemerdekaan .
***
Lalu mengapa sepertinya sejarah bangsa yang sangat besar ini hanya menyorot dua figur pembaca proklamasi saja. Seolah sebuah filem. Sukarno-Hatta ditempatkan sebagai pemain utama. Selainnya adalah pemeran pembantu dan figuran semata?
Padahal semua orang tahu. Bahwa, sebagian besar akar pemikiran Sukarno kerap berujung pada pemikiran Tan Malaka, dan HOS Tjokroaminoto. Cobalah lihat Sukarno beberapa kali menenteng buku tulisan Tan tentang konsep republik. perhatikan gagasan-gagasannya yang tertuang dalam Api Islam yang memuat banyak pokok-pikiran Tjokroaminoto sang mertua yang sekaligus mentor politiknya. lalu cermati sebagian besar naskah pidato Sukarno yang dikemudian hari sangat terkenal itu ternyata adalah naskah yang dihasilkan dari diskusi dan polemik kenegaraan dengan A Hasan atau M. Natsir.
Demikian juga dengan Hatta. Orang sering melihat hanya dia yang pantas menjadi simbol ketaatan administrasi dan keteladanannya dalam hidup sederhana. Namun, cobalah untuk menjawab pertanyaan ini: Siapakah tokoh pejuang kita yang hidup berkecukupan dikala itu?
Cobalah sesekali menegok Natsir. Hanya mampu mengenakan jas bertambal saat dilantik sebagai Menteri Penerangan. Dan tetap sederhana sampai jabatan Perdana Menteri ke-5. Rumahnya hanya kontrakan dibilangan Jakarta Pusat. Rumah pemberian negara saat dia pensiun dari perdana menteri tak mampu ditempatinya karena Pajak Bangunan (PBB) yang tinggi. Selalu meninggalkan mobil dinas dan berganti kendaraan umum. seringnya nunut boncengan sepeda motor DN Aidit pulang seusai sidang kabinet. Karena pulang dari urusan dinas adalah urusan pribadi, begitu pendapatnya. Atau tengok pula H Agus Salim. Tokoh yang tak kuat membayar listrik untuk penerangan rumahnya yang kecil saat posisinya sudah menjadi diplomat dan menteri Luar Negeri.
*****
Soal perlawanan rakyat semesta di pinggiran kota? Tengoklah Kyai Hasyim Asy'ari. Tokoh kaum bersarung yang tak lelah mengajarkan tradisi perlawanan terhadap kolonialisme di serambi pesantren. Si Tenang yang kemudian membuat sebuah resolusi terpenting bagi perlawanan dan perjuangan kemerdekaan di pelosok negeri. Resolusi Jihad namanya. Resolusi yang belakangan diketahui telah menggerakkanperlawanan dengan cara nekad meskipun senjata yang ada hanya bambu runcing dalam perang suci 10 Nopember Surabaya.
Pertempuran yang tak seimbang dari tinjauan militer. Tapi itulah pertempuran yang mempermalukan Brigade 49 dari Divisi V yang diboncengi NICA. Sekedar tahu, pasukan inggris yang dikenal dengan Fighting Cock, adalah kebanggaan Inggris yang berhasil menghancurkan Burma, menghajar Jepang di Asia Tenggara dan medan tempur lain waktu itu. Bukan itu saja, dalam pertempuran ini pula, sejarah Inggris yang tak pernah kehilangan jenderalnya di medan pertempuran manapun menjadi terpatahkan. jenderal Mallaby tewas hanya dalam hitungan minggu di medan pertempuran 10 Nopember itu.
*****
Soal kegigihan mempertahankan republik dengan tentara reguler? Tengoklah mantan guru Sekolah Muhammadiyah di Cilacap kelahiran Banyumas, yang memilih bergerilya: Jenderal Sudirman. Hampir tak ada bukit yang tak dilintasinya, di pulau Jawa ini. Hanya untuk menggerakkan pasukan dan relawan perang. Taktik gerilya dan sistem Hankamrata yang disusunnya bersama Tan Malaka. Mampu menahan Belanda memasuki daerah pertahanan terakhir. yang sekaligus ibukota peralihan, Jogyakarta.
Ini yang ingin saya ceritakan: Dia melakukan semua peperangannya dengan berjalan kaki. Sedikit berkuda. Dan terbanyaknya ditandu. Karena paru-parunya sudah membusuk sebelah. Fisiknya tak sekuat tekad dan gagasan besarnya. Kalau kita mengetahui hirarki militer. Maka pangkat tertinggi yang memimpin pasukan di lapangan adalah Kolonel. Jadi, dialah satu-satunya militer yang berpangkat Jenderal penuh, berbintang 4 dipundak, yang masih memimpin pasukan di medan laga sampai fisiknya tak mampu digerakkan lagi.
Tak heran bila, suatu hari Sukarno. Merasa perlu "menghadiahi dirinya sendiri" dengan sebutan Panglima Tertinggi Angkatan Perang Jenderal Soekarno. Tidak cukup itu. Dia bahkan menambah satu bintang lagi untuk dirinya. Menjadi berbintang 5 dipundak. Hanya karena wibawanya tak tertolong lagi dikalangan gerilyawan saat itu. Hal yang sama ditiru Suharto beberapa puluh tahun kemudian untuk alasan bermiripan.
*****
Rupanya sejarah tetap bertahan dengan pemeo lama. Bahwa dogma kekuasaan kadang lebih dimenangkan demi kepentingan politik sesaat dibandingkan keontetikan sejarah itu sendiri.
Karenanya, pada peringatan Hardiknas kali ini. Saya ingin mengajak santri-santri kecil saya di pesantren Tahfidz Qur'an untuk menziarahi makam yang tak ada penyebutan kata "pahlawan" di pusaranya. Tapi saya cukup yakin, bahwa pemilik jasad yang telah berkalang tanah disitu. Sedang tersenyum dengan senyuman termanisnya saat menghadap Sang Khaliq. Bahkan, mungkin dengan jenis senyuman yang mungkin tak pernah bisa dilakukan oleh para aktor utama dalam filem episode sejarah kemerdekaan kita sekalipun.
*Ditulis kembali sebagai surat untuk Seorang Guru
dari Mushollah kecil Pesantren Tahfidz Quran Semarang










Twitter Follow my tweets!
Delicious What I've been reading.
Blogger What I'm writing.
Behance My artworks.